Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Sabtu (5/12) lalu tampak berbeda. Suasana khidmat dan sukacita memenuhi arena, bukan untuk pertandingan olahraga, melainkan untuk Perayaan Natal Gereja Tiberias 2025. Di tengah puluhan ribu jemaat, hadir pula Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Kehadirannya bukan sekadar formalitas. Dalam sambutannya, Nasaruddin langsung menyapa hangat umat Kristiani. Suaranya tegas namun penuh kehangatan.
Ia kemudian bicara tentang keberagaman. Menurutnya, itu adalah anugerah. Sebuah hal yang harus dirawat, bukan ditakuti. Ia membandingkan dengan kondisi di banyak negara lain, di mana perbedaan justru jadi pemicu pertikaian yang tak berkesudahan.
“Di tempat lain, di negara lain, perbedaan itu sumber konflik. Tetapi kita di Republik Indonesia ini, perbedaan itu adalah sebuah lukisan Tuhan yang sangat indah,” ujarnya.
Kalimat tentang "lukisan Tuhan" itu ia ulangi dengan penekanan. Bahkan, ia menyebut Indonesia sebagai lukisan Tuhan terindah di dunia. “Tidak boleh ada yang mengacak-acak dan tidak boleh ada yang merusak lukisan Tuhan ini,” tegasnya, diikuti tepuk tangan riuh dari hadirin.
Artikel Terkait
Tere Liye Bongkar Tipu-Tipu Bekerja Keras untuk Keluarga, Ternyata yang Nikmati Hasilnya Cuma Mereka yang di Atas
Aktivis Muhammadiyah Serukan Prabowo Ganti Kapolri, Sebut Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Provokatif
Gelombang Klinik Halal: Saat Kecantikan Bertemu Keyakinan di Indonesia
Anggota Polisi Syariah di Aceh Merasakan Cambuk Pertama Kalinya