Kiai Muhyiddin Serukan Hijrah ke Syariah di Kajian Bogor

- Senin, 02 Februari 2026 | 05:50 WIB
Kiai Muhyiddin Serukan Hijrah ke Syariah di Kajian Bogor
Kajian Maqasid Syariah di Bogor

Bogor – Di hadapan jamaah Majelis Al Ihya yang memadati ruangan pada Ahad pagi (1/2/2026), KH Muhyiddin Junaidi menyampaikan pesan yang tegas. Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu menekankan, memahami dan mengamalkan maqasid syariah bukanlah hal opsional. Itu adalah kewajiban. Intinya, seluruh hukum Islam punya tujuan utama yang harus jadi pedoman hidup umat sehari-hari.

Lalu, apa sebenarnya maqasid syariah itu? Secara sederhana, Kiai Muhyiddin menerangkan, ia bermakna tujuan Allah menurunkan hukum-Nya. Tujuannya jelas: menjaga kemaslahatan manusia, tak cuma di dunia, tapi juga untuk kehidupan akhirat nanti.

“Allah mewajibkan kita mengikuti dan mengamalkan hukum-Nya. Di dalam Islam, tujuan hukum itu jelas, terukur, dan menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia,” ujar Kiai Muhyiddin.

Menurutnya, ada lima prinsip pokok yang jadi pilar maqasid syariah. Prinsip pertama adalah hifzhud din atau menjaga agama. Ini prioritas tertinggi, menyangkut akidah dan keimanan yang tak boleh dikompromikan.

Kedua, hifzhun nafs, menjaga jiwa dan raga. Islam sangat menjunjung tinggi nyawa manusia.

Lalu yang ketiga, hifzhul ‘aql. Di sini, Kiai Muhyiddin menekankan pentingnya menjaga dan menggunakan akal sehat. “Ada orang yang lebih mengutamakan otot daripada otak. Padahal Islam memuliakan akal,” katanya, disambut tawa jamaah.

Prinsip keempat adalah hifzhun nasl, menjaga keturunan. Ini soal fitrah manusia untuk punya generasi penerus. Karena itulah, Islam mengatur pernikahan, keluarga, dan pendidikan anak dengan sangat rinci.

Terakhir, hifzhul maal, menjaga harta. Harta adalah amanah, tegasnya, yang harus didapat dan dikelola secara halal.

Di sisi lain, Kiai Muhyiddin juga menyoroti perkembangan umat Islam global. Jumlahnya terus membesar, dan diprediksi sudah mendekati 2,1 miliar jiwa pada tahun 2026 ini.

“Sekarang ini tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak ada Muslimnya. Di Amerika, Amerika Latin, Karibia, Afrika, Australia, hingga Rusia, umat Islam terus bertambah,” katanya.

Ia bahkan menyebut data menarik dari Amerika Serikat. Di sana, sekitar 50.000 hingga 60.000 warga asli masuk Islam tiap tahunnya. Latar belakang mereka beragam; ilmuwan, profesor, peneliti, tokoh publik, bahkan mantan pelaku kriminal.

“Ini menunjukkan bahwa Islam diterima oleh akal sehat manusia. Maka agama ini harus kita jaga,” tegasnya.

Namun begitu, Kiai Muhyiddin mengingatkan, ada tantangan besar di internal umat sendiri. Islam yang mencakup akidah, ibadah, dan muamalah ini sering kali dipraktikkan secara tak seimbang. Ia secara khusus menyoroti praktik muamalah yang masih banyak berkutat di sistem ribawi.

“Bagaimana kita berdoa minta masuk surga bersama orang-orang saleh, tapi transaksi kita masih ribawi?” ujarnya mengingatkan, suaranya berisi.

Padahal, lembaga keuangan syariah sudah tersedia. Tapi masih banyak yang, katanya, malah bangga pakai sistem konvensional. Ia pun mengajak untuk hijrah. Pelan-pelan saja, asal konsisten, beralih ke perbankan, pembiayaan, dan asuransi yang syariah.

“Mulai tahun 2026 ini, mari kita niatkan hijrah ke syariah, pelan-pelan tapi konsisten,” ajaknya.

Di penghujung kajian, Kiai Muhyiddin menegaskan kembali. Ajaran Islam itu sudah sempurna. Hukum, akidah, muamalah, semuanya. Tugas umat sekarang adalah menjaga kemurniannya agar tidak rusak.

“Agama kita sudah bagus. Tugas kita adalah menjaga semua kebaikan itu dengan akidah yang kokoh dan praktik yang benar,” pungkasnya. []

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar