Kemarin, tak ada laporan keracunan. Kenapa sekarang muncul lagi? Jawabannya sederhana: kemarin kan libur. Anak-anak sudah dibagikan Makanan Bergizi (MBG) untuk seminggu. Isinya beragam, tapi nilai per harinya jelas jauh dari angka Rp 10 ribu yang digembar-gemborkan.
Nah, begitu aktivitas sekolah kembali normal, Sentra Penyediaan Pangan dan Gizi (SPPG) pun beroperasi lagi. Dan, seperti sudah bisa ditebak, kasus keracunan muncul. Polanya jadi terasa sirkular, berulang. Lama-lama, kejadian seperti ini seakan jadi hal yang biasa. Itu yang mengkhawatirkan.
Di Davos baru-baru ini, Prabowo dengan bangga memamerkan program ini. "Kami memberi makan 50 juta orang setiap hari!" serunya. Pencapaian itu, klaimnya, hanya butuh satu tahun pemerintahan. Lalu dia membandingkannya dengan McDonald's yang butuh 50 tahun untuk melayani jumlah konsumen yang sama.
Angka-angka memang ampuh meyakinkan publik. Tapi, ada sesuatu yang luput dari pidato itu. Fakta soal keamanan pangannya.
Kasus keracunan terkait McDonald's sebenarnya sangat jarang. Dalam rentang lima tahun (2020-2025), hanya ada satu insiden signifikan akibat bakteri E. coli pada 2024, dengan 104 korban yang dirawat. Setelahnya, mereka harus membayar kompensasi yang tidak murah untuk insiden dari bawang bombay yang terkontaminasi itu.
Sementara di sini? Keracunan seolah jadi hal yang biasa. Bahkan Badan Gizi Nasional (BGN) tampaknya tak terlalu gusar. Sepertinya mereka sudah terbiasa.
Yang paling mengganjal dari program mahal ini adalah soal transparansi dan pengawasan. Setiap kali ada kasus, yang diumumkan biasanya cuma lokasi SPPG-nya. Lalu ditutup sementara. Titik.
SPPG nomor berapa? Alamat pastinya di mana? Siapa pemilik atau yayasannya? Informasi itu tak pernah jelas. Sampai sekarang, publik tidak tahu siapa yang sebenarnya mengelola SPPG. Daftar lengkap dengan alamat dan pemiliknya pun sudah hilang dari situs BGN.
Artikel Terkait
Mendikdasmen Resmikan Puluhan Sekolah di Aceh, Bangkit Pascabencana
Gencatan Senjata Gaza Retak, 32 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara
Kapolri Siap Perang Demi Status Quo, Reformasi Polri Terancam Mandek
Mantan Penyidik KPK Buka Suara: Alat Usang Hambat Operasi Tangkap Tangan