Semuanya berawal dari sebuah klip podcast yang tak bisa saya lupakan. Figur akademisi Bagus Muljadi sedang berbicara tentang mental kolonial yang ia anggap masih mendarah daging. Intinya, menurutnya, ada narasi yang menganggap pribumi itu harus berpikir sederhana dan berbahasa sederhana. Sementara itu, kaum kolonial dulu yang berkiblat ke Barat dipandang punya pemikiran kompleks dan empiris. Pendapatnya itu, jujur saja, bikin saya resah.
Gaya penyampaiannya yang condong ke citra intelektual tinggi langsung memantik penolakan. Banyak yang merasa cara seperti itu justru gagal menyampaikan pesan.
Yang berbahaya, menurut saya, pandangan semacam ini malah menormalisasi kedangkalan berpikir. Seolah-olah yang sederhana itu selalu benar, dan yang rumit itu selalu sok tahu. Kita jadi lupa, bahwa kerumitan seringkali adalah bagian dari kedalaman.
Nah, biasanya kita langsung berlindung di balik kutipan Einstein. Katanya, kalau kamu bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti kamu benar-benar paham. Atau pepatah lama tentang padi, yang semakin berisi semakin merunduk.
Awalnya, nasihat itu terdengar bijak. Tapi di era post-truth sekarang, maknanya bergeser. Bahkan dipelintir. Sederhana bukan lagi soal kejelasan, tapi jadi alasan untuk menolak kerumitan. Hasilnya? Muncul sentimen negatif terhadap siapa saja yang terlihat serius secara intelektual dedikasi tinggi dianggap arogan, tutur kata formal dicap elitis.
Tanpa disadari, logika percakapan kita sehari-hari sudah keracunan budaya komoditas. Prinsip "pembeli adalah raja" membuat segalanya harus praktis dan instan. Saya sendiri sering ragu. Ketika ingin menggunakan kosakata yang tepat, ada aura intimidasi dari lawan bicara. Haruskah saya uraikan dengan kata-kata yang lebih sederhana? Agar tidak dianggap bertele-tele, atau yang lebih parah agar tidak membuat mereka merasa bodoh.
Daniel Kahneman pernah bilang, otak kita memang malas. Dia punya preferensi alami untuk menerima informasi yang familiar dan ringan, lalu menerimanya sebagai kebenaran.
Jadi, ironisnya, di zaman sekarang kebenaran yang otentik dan berbobot harus dibongkar pasang. Dia harus dibungkus ulang dengan kemasan yang sederhana, fleksibel, dan praktis. Akibatnya? Distorsi makna di mana-mana. Dan yang mengkhawatirkan, implikasi serius dari hal ini seperti delegitimasi nilai rasional dalam ilmu pengetahuan kurang dapat perhatian.
Psikolog Carol Dweck punya penjelasan. Bagi orang dengan pola pikir tetap, situasi menantang bisa terasa mengancam. Ini akhirnya menghambat pertumbuhan kecerdasan mereka sendiri.
Ekosistem digital kita jelas memperparah keadaan. Platform seperti TikTok atau YouTube Shorts mendewakan durasi pendek dan visual mencolok. Substansi yang dalam sering dikorbankan demi engagement.
Memang, masih ada kreator yang menyajikan konten aktual dan narasi lengkap. Tapi jumlahnya kalah banyak dibanding yang menawarkan pemahaman ala "face-to-face", dengan gestur tubuh dan analogi super sederhana atau sering disebut "bahasa bayi".
Artikel Terkait
Dokter Anak Tangani Balita Kejang di Pesawat, Penerbangan Tetap Lanjut
Negara Hukum atau Negara Opini? Ancaman Tafsir Liar di Ruang Publik
Gerakan Rakyat Serukan Prabowo Tarik Diri dari Board of Peace Trump
Habib Bahar Bin Smith Resmi Jadi Tersangka Penganiayaan Anggota Banser