Ketika Bahasa Bayi Menggerus Kedalaman: Resistensi Intelektual di Era Komoditas Informasi

- Minggu, 01 Februari 2026 | 07:06 WIB
Ketika Bahasa Bayi Menggerus Kedalaman: Resistensi Intelektual di Era Komoditas Informasi

Akibatnya, wacana ilmiah jadi keruh. Dia jadi objek kritik yang tidak berbobot, hanya karena orang menghendaki kemudahan dalam setiap dialog. Para populis pun mengambil alih. Mereka memanfaatkan fenomena ini untuk komodifikasi, mengejar angka penonton tinggi.

Terbentuklah ilusi kompetensi yang berbahaya. Seseorang merasa sudah paham geopolitik atau mekanika kuantum hanya dari video 60 detik, tanpa pernah membuka buku teks.

Tentu, penyederhanaan punya tempatnya. Dia diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, terutama untuk masyarakat dengan akses pendidikan terbatas.

Tapi di sini ada batas tipis. Sangat tipis. Antara membuat sesuatu jadi aksesibel, dan melakukan penyederhanaan berlebihan yang justru menghilangkan esensi kebenarannya.

Di tengah situasi ini, muncul sosok seperti Ferry Irwandi. Bersama komunitas Madilog, ia berhasil menjangkau audiens yang jarang disentuh akademisi konvensional. Pengikutnya jutaan.

Kebanyakan dari mereka pasti menyukai model "bahasa bayi" yang ia terapkan. Tapi, menurut pengamatan saya, Irwandi paham betul dimana batasnya. Ia tidak mempersempit ruang logika yang otentik dan ilmiah. Hasilnya, terciptalah wacana ilmiah populer dimana orang merasa bebas berargumen, tanpa merasa diintimidasi oleh gatekeeping bahasa.

Namun begitu, setiap aksi ada konsekuensinya. Kita harus waspada pada Pseudo-Intelektualisme. Fenomena dimana seseorang berusaha terlihat pintar tanpa landasan kuat. Ini racun yang lebih mematikan, karena berada di area abu-abu yang sulit dibedakan.

Lev Vygotsky, lewat konsep Zone of Proximal Development, mengingatkan kita. Pembelajaran efektif terjadi justru ketika kita didorong sedikit keluar zona nyaman, dengan bimbingan yang tepat. Bukan dengan menurunkan standar materi sampai ke titik terendah hanya agar semua merasa nyaman.

Menyamaratakan standar komunikasi publik ke level paling rendah dengan dalih inklusivitas adalah penghinaan terselubung terhadap kecerdasan masyarakat. Itu mentalitas budak.

Dan mentalitas seperti itu hanya bisa ditumpas dengan satu cara: kesadaran kolektif. Lewat perjuangan, dan dalam situasi yang kritis. Karena pada akhirnya, biang keladi dari kebiasaan mengonsumsi yang instan adalah ketersediaannya yang melimpah, dan hilangnya rasa urgensi untuk benar-benar sadar.


Halaman:

Komentar