Sejak fajar menyingsing, suara ledakan kembali mengguncang Gaza. Serangan udara dan darat Israel, yang berfokus di Kota Gaza dan Khan Younis, menorehkan korban jiwa yang pahit. Menurut keterangan sejumlah sumber medis yang dihubungi Al Jazeera, sedikitnya 31 warga Palestina meregang nyawa. Yang membuat pilu, enam dari mereka masih anak-anak.
Kekerasan ini datang di saat yang sangat sensitif. Cuma sehari lagi, tepatnya hari Minggu, Israel rencananya akan membuka kembali Penyeberangan Rafah. Titik penghubung antara Gaza dan Mesir itu terakhir kali beroperasi pada Mei 2024 lalu. Jadi, wacana pembukaan ini seharusnya jadi secercah harapan. Namun di lapangan, situasinya justru makin memanas.
Di sisi lain, angka korban sejak gencatan senjata berlaku terus merangkak naik. Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut, lebih dari 500 orang Palestina telah tewas oleh pasukan Israel. Padahal, gencatan yang dimediasi Amerika Serikat itu sudah berlaku sejak 10 Oktober. Sebuah fakta yang kontras dengan harapan akan perdamaian.
Artikel Terkait
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Buronan Kasus Korupsi Minyak Riza Chalid
Umi Waheeda dan 12.000 Santri yang Menolak Tunduk pada Pungli
Peneliti Prancis Dideportasi Usai Ungkap Data Karhutla yang Berbeda dari Pemerintah
LBH Keadilan Rakyat Soroti Risiko Rp16,9 Triliun untuk Dewan Keamanan Trump