Di Tengah Dunia yang Cepat, Seni Mendengar Jadi Barang Langka

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:06 WIB
Di Tengah Dunia yang Cepat, Seni Mendengar Jadi Barang Langka

Rasanya, makin sering saja kita mengalami hal semacam ini. Bukan cuma di timeline media sosial, tapi juga dalam keseharian. Di rumah, di kantor, di kelas. Bahkan dengan orang-orang terdekat sekalipun. Kita ngobrol, ketawa bareng, tapi entah kenapa, saling ngerti jadi terasa susah banget.

Semuanya serba cepat sekarang. Semua minta respon kilat. Pesan chat harus langsung dibalas, pendapat harus langsung dikeluarin, perasaan harus langsung diluapin. Di tengah kecepatan itu, mendengar dengan sepenuh hati jadi barang langka. Kita cuma hadir secara fisik, tapi pikiran entah ke mana.

Media sosial? Situasinya mirip. Kita lihat secuil cerita hidup orang, lalu merasa sudah punya hak untuk memberi cap. Satu unggahan dianggap mewakili seluruh karakter. Satu salah diperbesar-besarkan. Padahal, yang tampil di layar itu cuma fragmen kecil, bukan cerita utuh seseorang.

Nggak cuma itu, kita sebenarnya juga bawa beban masing-masing. Banyak orang yang bersikap defensif bukan karena benci, tapi karena takut disalahpahami. Banyak yang memilih diam bukan karena nggak peduli, tapi karena capek berulang kali menjelaskan. Dalam kondisi kayak gini, ya wajar kalau saling memahami jadi makin rumit.

Ironisnya, kita sering nuntut dimengerti, tapi nggak punya kesabaran buat mengerti orang lain. Kita pengen didengar, tapi ogah mendengar. Kita minta diterima apa adanya, tapi cepat-cepat mengkritik saat melihat perbedaan. Lucu, ya?


Halaman:

Komentar