Padahal, memahami itu nggak harus sama dengan setuju. Memahami cuma butuh kesediaan memberi ruang. Ruang buat orang lain bicara tanpa dipotong. Ruang buat perbedaan tanpa langsung dihakimi. Atau sekadar ruang untuk diam, tanpa dipaksa menjabarkan segalanya.
Mungkin masalahnya bukan pada ketidakmampuan kita. Tapi pada kelelahan dan ketergesaan yang kita bawa. Kita jarang berhenti sejenak dan benar-benar memandang lawan bicara sebagai manusia utuh bukan sekadar kumpulan opini, posisi, atau masalah yang harus diselesaikan.
Kalau mau mulai dari sesuatu yang sederhana, coba deh: dengarkan dulu tanpa langsung menyiapkan jawaban. Tanyakan tanpa niat mengoreksi. Hadirlah sepenuhnya, tanpa keinginan untuk selalu tampil benar. Hal-hal sepele, tapi sering banget kita lupakan.
Jujur saja, saling memahami itu proses yang nggak instan. Butuh waktu, kadang bikin lelah, dan nggak selalu menyenangkan. Tapi justru di situlah hubungan jadi lebih dalam dan berarti. Di tengah dunia yang makin riuh, bisa jadi memahami adalah bentuk kepedulian yang paling sunyi dan justru itulah yang paling kita butuhkan sekarang.
Artikel Terkait
Gus Yahya Tegaskan Visi NU Sejalan dengan Semangat Proklamasi
Gus Yahya Tegaskan Visi NU Sebagai Jiwa Republik di Harlah Satu Abad
Jokowi Pasang Kuda-kuda, Prabowo-Gibran Dua Periode Jadi Target Ketiga
Jalan Lintas Aceh Tengah–Bener Meriah Amblas, Tanah Bergerak Sejak 2002