Putri Stalin yang Membelot: Kisah Pelarian Svetlana ke Barat

- Kamis, 29 Januari 2026 | 22:36 WIB
Putri Stalin yang Membelot: Kisah Pelarian Svetlana ke Barat

Pelarian melalui India

Kesempatan emas datang tahun 1967. Ia diizinkan ke India untuk mengurus abu pasangannya, Brajesh Singh. Di New Delhi, ia merasakan tekanan dari Moskow untuk segera pulang makin kuat. Masa depannya di tanah air suram.

Lalu, ia ambil keputusan nekat.

Dengan langkah gegas, ia mendatangi Kedutaan Besar AS dan meminta suaka. Permintaannya dikabulkan. Operasi rahasia pun digelar untuk membawanya keluar. Uni Soviet tentu saja geram. Media Barat pun ramai memberitakan "pembelotan putri Stalin" sebagai kemenangan simbolis di tengah Perang Dingin.

Kehidupan di Barat: Sebuah Simbol yang Lelah

Di Amerika, Svetlana jadi selebritas instan. Memoarnya laris manis. Ia jadi alat propaganda hidup melawan Soviet. Tapi di balik sorotan lampu, hidupnya tak kunjung tenang.

Ia menikah lagi, berpindah-pindah dari AS ke Inggris. Hubungan dengan anak-anaknya yang tertinggal di Uni Soviet punah. Ia kerap mengeluh, lelah dieksploitasi. Bahkan, ia menolak keterlibatan lebih jauh dengan pemerintah AS yang pernah menampungnya.

Di akhir 80-an, sempat ada kepulangan singkat ke Moskow. Tapi itu tak bertahan lama. Ia kembali ke Barat, memilih hidup yang lebih sunyi.

Akhir Perjalanan

Svetlana Alliluyeva menghembuskan napas terakhir pada 22 November 2011 di Richland Center, Wisconsin. Usianya 85 tahun. Tahun-tahun terakhirnya dijalani jauh dari hiruk-pikuk, terasing dari dunia yang dulu memanfaatkan kisahnya.

Dengan wafatnya, hilanglah satu-satunya saksi mata dari keluarga inti Stalin yang pernah hidup bebas di luar tembok Soviet, dan punya kesempatan meski berat untuk menceritakan kisahnya sendiri.


Halaman:

Komentar