Putri Stalin yang Membelot: Kisah Pelarian Svetlana ke Barat

- Kamis, 29 Januari 2026 | 22:36 WIB
Putri Stalin yang Membelot: Kisah Pelarian Svetlana ke Barat

Awalnya, klaim itu ditanggapi dengan skeptis. Masa Perang Dingin kan memang penuh dengan tipu daya intelijen. Tapi siapa sangka, setelah proses verifikasi yang ketat, ternyata perempuan itu memang benar anak kandung Stalin. Dalam beberapa hari, Svetlana sudah diamankan dan dibawa ke Barat. Peristiwa ini langsung jadi sensasi global sebuah tamparan telak bagi Kremlin.

Anak Perempuan di Pusat Kekuasaan Soviet

Svetlana lahir tahun 1926, buah pernikahan Stalin dengan Nadezhda Alliluyeva. Di balik citranya yang keras dan kejam, Stalin ternyata punya sisi lain. Pada putrinya, ia menunjukkan perhatian dan kelembutan yang jarang terlihat publik.

Dunia Svetlana runtuh di usia enam tahun. Ibunya meninggal pada 1932. Resminya disebut bunuh diri, tapi di lorong-lorong Kremlin, bisik-bisik dan teori lain tak pernah benar-benar padam. Tanpa figur ibu, Svetlana tumbuh sementara Stalin makin tenggelam dalam kekuasaan dan kecurigaan.

Meski hidup dalam tekanan, ia mendapat pendidikan terbaik. Sejarah, sastra, bahasa asing ia menguasainya. Tapi status sebagai anak Stalin membuat hidup pribadinya tak pernah lepas dari pengawasan. Setiap langkah diawasi.

Hubungan Pribadi dan Intervensi Politik

Remaja, Svetlana jatuh cinta pada Alexei Kapler, seorang sineas yang jauh lebih tua. Stalin murka. Kapler ditangkap dan dibuang ke kamp kerja paksa di Siberia. Bagi Svetlana, ini pelajaran pahit pertama: cintanya bisa berujung pada hukuman politik.

Pernikahan-pernikahannya setelah itu juga tak pernah tenteram. Salah satu suaminya berasal dari keluarga yang menjadi korban pembersihan Stalin sendiri. Campur tangan negara selalu hadir, merenggangkan ikatan rumah tangganya. Upayanya hidup normal selalu terbentur nama besarnya.

Setelah Sang Ayah Tiada

Stalin wafat pada 1953. Di upacara pemakaman megah itu, Svetlana tampil sendirian. Ia berdiri terpencil di tengah lautan rakyat yang berkabung, sosok penyendiri dari keluarga yang telah hancur.

Namun kematian sang diktator tak membawa kebebasan. Justru sebaliknya. Para penerus Stalin memandangnya sebagai simbol yang merepotkan. Nama "Stalin" yang melekat padanya jadi beban, membuatnya terus diawasi dan dibatasi.


Halaman:

Komentar