Di satu sisi, banyak negara yang ingin kebijakan Eropa selaras dengan AS yang sudah lebih dulu memasukkan IRGC dalam daftar terorisnya. Namun begitu, ada juga kekhawatiran. Beberapa ibu kota di Eropa masih waswas langkah ini justru memutus hubungan diplomatik dengan Iran. Bukan cuma itu, keamanan perwakilan diplomatik Eropa di Teheran bisa terancam, begitu pula nasib warga Eropa yang masih ditahan di sana.
Prancis sendiri punya pertimbangan khusus. Dua warganya, yang dibebaskan dari penjara tahun lalu, saat ini masih berada di lingkungan Kedutaan Besarnya di Teheran. Keselamatan mereka tentu jadi perhitungan.
IRGC bukan sekadar pasukan militer biasa. Dibentuk pasca-Revolusi 1979, korps ini menjadi pilar kekuasaan yang sangat kuat. Mereka menguasai sektor-sektor ekonomi strategis, punya kendali penuh atas program rudal dan nuklir Iran, serta punya pengaruh besar di dalam negeri maupun di kawasan.
Bagi banyak diplomat Eropa, skala represi dalam demonstrasi akhir-akhir ini sudah melampaui batas. Peran IRGC, baik di dalam negeri maupun di luar, dinilai layak untuk dikategorikan sebagai teroris. Tidak ada lagi ruang untuk ragu.
Pertemuan di Brussels nanti akan jadi ujian nyata. Bisakah Uni Eropa konsisten menyeimbangkan antara kepentingan diplomasi, stabilitas regional, dan komitmennya pada hak asasi manusia? Di tengah panasnya geopolitik Timur Tengah, jawabannya akan segera terlihat.
Artikel Terkait
Jalan Kabupaten Lumpuh, Belasan Motor Mogok Diterjang Banjir di Indramayu
Chiki Fawzi Dapat Closure dari Kemenhaj, Ini Alasan Pencopotannya
Polri Serap Aspirasi Publik untuk Transformasi Layanan
Malam Larut di Bandung, dan Kenangan yang Tak Kunjung Pergi