Sawit di Papua: Antara Janji Kesejahteraan dan Tantangan Lingkungan

- Kamis, 29 Januari 2026 | 17:50 WIB
Sawit di Papua: Antara Janji Kesejahteraan dan Tantangan Lingkungan

MURIANETWORK.COM - Ekspansi perkebunan kelapa sawit di tanah Papua, bagi banyak pihak, bukan sekadar urusan bisnis. Ini soal masa depan. Di satu sisi, janjinya besar: lapangan kerja baru, pemerataan ekonomi, hingga kontribusi untuk kemandirian energi nasional. Tapi, seperti biasa, jalan menuju ke sana tak pernah mulus.

Bayangkan Papua dengan lapangan kerja yang terbatas. Di sinilah sawit kerap disebut sebagai jawaban. Industri ini, dari mulai tanam hingga produk sampai ke tangan konsumen, punya rantai yang panjang. Artinya, serapan tenaga kerjanya juga masif.

Mantan Wakil Gubernur Papua, Alex Hasegem, pernah membuat perhitungan yang menarik. Katanya, andai saja 2 juta hektar lahan sawit terbuka di Papua, dan separuhnya jadi untuk petani plasma, maka sekitar 250 ribu Kepala Keluarga Orang Asli Papua (OAP) bisa dapat pekerjaan.

“Kalau satu keluarga itu rata-rata empat orang, ya sudah, hampir satu juta jiwa yang hidupnya bisa terdongkrak. Itu baru dari sisi petani, belum lagi dari pabrik pengolahan dan distribusi. Angkanya pasti lebih gede lagi,” begitu kira-kira hitungannya.

Dengan kerja, kesejahteraan naik. Kemiskinan punya peluang untuk ditekan. Tapi manfaatnya nggak cuma sampai di situ.

Menurut sejumlah studi, kehadiran sawit ternyata bisa meratakan ketimpangan. Lembaga PASPI, dalam sebuah jurnal di tahun 2025, menyebut bahwa distribusi pendapatan di sektor sawit relatif lebih merata. Ini membantu menurunkan kesenjangan sosial-ekonomi.

Penelitian lain oleh Syahza dan kawan-kawan (2019, 2021) juga menguatkan. Pembangunan perkebunan sawit, menurut mereka, terbukti mempersempit jurang ekonomi baik antar kelompok masyarakat maupun antar daerah di Indonesia.


Halaman:

Komentar