Lalu, kita sebagai rakyat biasa bisa apa? Rasanya, paling-paling cuma bisa kesel dalam hati. Marah yang dipendam. Atau curhat di media sosial, itupun dengan kata-kata yang harus disaring berkali-kali. Takut. Takut kena UU ITE, takut dibilang provokasi, atau dituding menghina agama seperti kasus-kasus lain yang kita tahu.
Memang, ini terlihat seperti "masalah kecil". Tapi jangan salah. Jika dibiarkan terus terjadi, efeknya bisa seperti bola salju. Kepercayaan publik pada institusi bisa terkikis pelan-pelan. Sejarah mencatat, gejolak besar seperti Arab Spring di Timur Tengah justru dipicu oleh insiden yang mirip: seorang pedagang sayur, Mohamed Bouazizi, yang gerobaknya disita polisi hingga memilih membakar diri.
Maka, pembinaan aparat di lapangan itu krusial banget. Edukasi prosedur, pengendalian emosi, verifikasi fakta sebelum bertindak semua itu penting. Tapi yang paling utama adalah penegakan disiplin internal yang konsisten dan berkeadilan. Tanpa itu, omongan mana yang akan didengar?
Kita cuma bisa berharap Bapak Suderajat, korban dalam kisah ini, bisa perlahan pulih dari traumanya. Semoga usahanya bangkit kembali. Kasus ini harus jadi pengingat bagi semua pihak, terutama yang menjalankan tugas di lapangan, untuk lebih manusiawi. Lebih berempati.
Terlebih, kita sama-sama tahu, bapak-bapak aparat itu beragama, kan?
(Ruly Achdiat Santabrata)
Artikel Terkait
Anggota DPRD Kupang Ditahan, Terancam Pasal KDRT dan Perlindungan Anak
KPK Buka Suara: Gaji Tak Merata hingga Persepsi Korupsi sebagai Hak Istimewa
KPK Naikkan Batas Hadiah yang Tak Perlu Dilaporkan, Kini Rp 1,5 Juta
Siklus Bencana di Indonesia: Antara Respons Darurat dan Mitigasi yang Terlupakan