PENISTAAN RAKYAT KECIL
Bayangkan saja. Anda seorang pedagang kecil, berusaha menghidupi keluarga dengan jualan makanan. Tiba-tiba, dagangan Anda diremas-remas, dilempar, bahkan dihancurkan sampai meleleh. Itu baru awal.
Kemudian, Anda diinterogasi dengan kasar. Dipermalukan di depan umum. Semua direkam dan videonya diviralkan. Belum cukup, fisik Anda pun jadi sasaran: ditonjok, disabet selang air, ditendang. Kaki disuruh diangkat-angkat sambil terus disabet. Sungguh, perlakuan yang bikin sakit hati.
Trauma yang ditinggalkan begitu dalam. Sampai-sampai, korban takut untuk berjualan lagi. Rasanya, kata mereka, diperlakukan "kayak anjing".
Dan ada satu kalimat dari oknum aparat yang sulit dilupakan, begitu kejam dan menusuk:
Sayangnya, ini bukan cerita baru. Kasus ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang terhadap warga kecil pedagang kaki lima, tukang ojek, dan sejenisnya seolah jadi rekaman yang diputar berulang. Yang bikin geram, konsekuensi hukumnya seringkali tidak tegas. Bahkan terasa pilih kasih.
Lihat saja polanya. Cukup dengan permintaan maaf, segalanya beres. Sementara di sisi lain, aktivis yang vokal mengkritik kebijakan bisa berakhir di balik jeruji. Kontras yang mencolok, bukan?
Artikel Terkait
Anggota DPRD Kupang Ditahan, Terancam Pasal KDRT dan Perlindungan Anak
KPK Buka Suara: Gaji Tak Merata hingga Persepsi Korupsi sebagai Hak Istimewa
KPK Naikkan Batas Hadiah yang Tak Perlu Dilaporkan, Kini Rp 1,5 Juta
Siklus Bencana di Indonesia: Antara Respons Darurat dan Mitigasi yang Terlupakan