Ustadz Felix Siauw tak menyembunyikan kekecewaannya. Kritiknya mengeras menyusul langkah pemerintah Indonesia yang memutuskan bergabung dengan Dewan Perdamaian atau Board of Peace, sebuah inisiatif yang digagas Presiden AS Donald Trump. Penandatanganan piagamnya sendiri dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Davos, Swiss, akhir Januari lalu.
Bagi Felix, keputusan ini terasa janggal. Bahkan lebih dari itu.
"Itu menurutku jelas-jelas sebuah penjajahan gaya baru, kezaliman yang nyata," ujarnya dengan nada tegas.
“Ada yang petantang-petenteng merasa dia adalah pemilik dunia dan bisa menentukan apa saja yang mau dia buat terkhusus untuk Gaza, dan presiden kita ikut didalamnya.”
Ia lalu mengajak kita membayangkan sebuah analogi yang gamblang. Coba pikir, katanya, apa yang bisa diselesaikan dari sini? Menurutnya, ini adalah bentuk penjajahan pemikiran.
“Kalau ada orang diperkosa, dibunuh, kita bilang dong, ini adalah kegilaan. Ini kesadisan. Tapi mereka malah bilang keselamatan Israel. Kenapa kita gak bilang, Palestina harus kita utamakan, penjahat harus diadili seadil-adilnya?”
Felix tampaknya tak menuntut hal yang muluk-muluk. “Aku gak menuntut presiden kita untuk berpikir cerdas. Berpikir normal saja,” lanjutnya.
“Tapi malah berulang kali bilang kita harus menjaga keselamatan Israel. Bagiku itu bukan hanya gak normal, tapi cara berpikir yang sesat."
Artikel Terkait
Hukum di Indonesia: Sapu Kotor yang Hanya Memindahkan Sampah?
KPK Beberkan 116 Perkara Korupsi Sepanjang 2025, 11 Diantaranya Tertangkap Tangan
Ketika Hawking Menyerah pada Mimpi: Teori Segalanya yang Tak Pernah Terwujud
KPK Klaim Kembalikan Aset Rp 1,5 Triliun ke Negara di 2025