Yang menarik, meski air sudah membahayakan, banyak warga memilih untuk tidak mengungsi. Mereka bertahan di lantai dua rumah atau mencari spot yang lebih tinggi di sekitar tempat tinggalnya. Rupanya, rasa khawatir akan harta bendalah yang membuat mereka enggan pergi. Mereka takut barang-barang yang tersisa hilang atau rusak lebih parah.
“Banyak barang berharga yang sudah rusak kena air, jadi kami pilih bertahan di sini untuk menjaga sisanya agar tidak hilang atau terbawa arus,”
kata Cecep, warga lain yang juga memilih bertahan. Pilihannya berat, antara keselamatan dan upaya menyelamatkan sisa-sisa penghidupan.
Di sisi lain, petugas gabungan yang berjaga terus mengimbau warga untuk waspada. Mereka meminta masyarakat segera mengungsi jika tiba-tiba debit air naik drastis. Ancaman lain yang tak kalah serius adalah korsleting listrik di rumah-rumah yang masih terendam, yang bisa memicu bahaya baru kapan saja. Sementara langit masih kelabu, ketegangan di empat kelurahan itu Margadadi, Kepandean, Karang Malang, dan Lemah Mekar terus berlanjut. Menunggu air surut, atau justru menunggu bantuan yang lebih konkret.
Artikel Terkait
Belajar Pergi: Ketika Bertahan Terlalu Lama Justru Melukai Diri Sendiri
Amien Rais Soroti Pudarnya Semangat Persatuan Umat Islam di Tengah Perdebatan Furuiyyah
Choi Woo Sung: Dari Peran Pendukung Hingga Sorotan di Can This Love Be Translated
Salah Kaprah Istilah Sahabat Nabi: Dari Makna Asli hingga Tafsir Halu di Medsos