Sudrajat, lima puluh tahun usianya, sudah tiga dekade mengais rezeki dari berjualan es gabus di Kemayoran. Tapi sekarang? Ia memilih untuk angkat kaki dari ibu kota. Padahal, omzetnya tak bisa dibilang sedikit.
Dalam sehari, pria asal Bojonggede, Bogor ini bisa menghabiskan 150 potong es gabus. "Tiga puluh tahun, setiap hari bawa 150 potong," kenangnya saat ditemui Selasa lalu. Suaranya terdengar lirih, bercampur lelah.
Rutinitasnya memang melelahkan. Setiap subuh, sekitar pukul empat pagi, ia sudah bergegas dari rumah. Tujuannya ke sebuah pabrik es di Depok untuk mengambil dagangannya. Lalu, dengan menumpang kereta paling pagi, ia membawa kardus-kardus berisi es gabus itu ke Jakarta Pusat. Pilihannya sederhana: di sanalah jualannya laris. Berbeda dengan di sekitar rumahnya.
"Habis di sini, Bogor, belum laku-laku. Namanya juga kabupaten," ujarnya sambil menghela napas.
Perjalanan pulang-pergi itu baru berakhir sekitar pukul enam sore. Kalau dagangannya ludes terjual, ia bisa membawa pulang uang antara tiga ratus hingga empat ratus ribu rupiah. "Kalau habis semua sih dapet 400, 300," katanya.
Namun begitu, semua kerja keras dan rutinitas panjang itu kini terpaksa dihentikan. Sebuah peristiwa buruk beberapa waktu lalu membuatnya kapok. Trauma itu masih membekas.
"Kapok saya, malem. Takutnya saya ditimpuk pakai batu gede," tutur Sudrajat, matanya menghindari kontak.
Kini, sebagai ganti mencari nafkah di ibu kota, ia memutuskan untuk berjualan gorengan di sekitar rumahnya saja. Lebih aman, meski mungkin tak seberapa. "Mau jualan goreng-gorengan di sini," pungkasnya, menutup percakapan.
Artikel Terkait
Keluarga Nahkoda Kapal Honour 25 yang Disandera Perompak Somalia Masih Menanti Kabar
BMKG: Makassar Berawan Seharian Jumat 1 Mei 2026, Waspada Potensi Hujan Ringan Siang-Sore
Mahfud MD: UU Peradilan Militer Belum Diubah Jadi Hambatan Kasus Andrie Yunus Dibawa ke Pengadilan Umum
Menteri PPPA Minta Maaf Atas Pernyataan soal Gerbong Khusus Perempuan Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi