Sudrajat, lima puluh tahun usianya, sudah tiga dekade mengais rezeki dari berjualan es gabus di Kemayoran. Tapi sekarang? Ia memilih untuk angkat kaki dari ibu kota. Padahal, omzetnya tak bisa dibilang sedikit.
Dalam sehari, pria asal Bojonggede, Bogor ini bisa menghabiskan 150 potong es gabus. "Tiga puluh tahun, setiap hari bawa 150 potong," kenangnya saat ditemui Selasa lalu. Suaranya terdengar lirih, bercampur lelah.
Rutinitasnya memang melelahkan. Setiap subuh, sekitar pukul empat pagi, ia sudah bergegas dari rumah. Tujuannya ke sebuah pabrik es di Depok untuk mengambil dagangannya. Lalu, dengan menumpang kereta paling pagi, ia membawa kardus-kardus berisi es gabus itu ke Jakarta Pusat. Pilihannya sederhana: di sanalah jualannya laris. Berbeda dengan di sekitar rumahnya.
"Habis di sini, Bogor, belum laku-laku. Namanya juga kabupaten," ujarnya sambil menghela napas.
Artikel Terkait
Amien Rais Ingatkan Prabowo: Jangan Terjebak Agenda Trump Soal Palestina
Menteri PU Paparkan Progres Pascabencana: 1.200 Huntara Disiapkan, Normalisasi Sungai Capai 52%
Guru Tangerang Selatan Dilaporkan Polisi Usai Tegur Murid di Lomba Sekolah
Anggota DPR Desak BRIN Kembalikan Peneliti ke Daerah