Apalagi kalau nanti BoP mandek, atau Trump sudah lengser tiga tahun ke depan. Kebijakan AS bisa berubah total. Tapi dengan skema ini, mereka terpaksa tetap jalan. Keuntungannya? Jika BoP bertahan, anak cucu dan keluarga Trump bisa tetap punya pengaruh besar di dunia, meski sang mantan presiden sudah pensiun.
Lalu, sebenarnya apa sih rencana Trump untuk Gaza?
Intinya mirip skenario Afghanistan dulu: ganti rezim. Mereka ingin membentuk pemerintahan baru di Gaza, plus pasukan keamanan baru yang menggantikan peran Hamas. Namun, dalam rencana ini, isu pembentukan negara Palestina tampaknya sengaja dikaburkan atau malah diabaikan.
Dengan pemerintahan baru yang lebih lunak terhadap Israel dan dikendalikan BoP, diharapkan Israel mau mundur total. Setelah itu, rekonstruksi Gaza bisa dimulai berdasarkan rencana yang konon dibikin menantu Trump sendiri.
Visi mereka muluk: menjadikan Gaza kota internasional. Berhasil atau tidak, itu urusan nanti. Yang jelas, proyeknya bernilai puluhan miliar dolar. Dan semua bantuan untuk Gaza harus lewat BoP, bukan lagi melalui saluran PBB.
Namun begitu, rencana ini punya ganjalan serius. Mekanisme pembentukan pemerintahannya bagaimana? Cara melucuti Hamas secara persuasif gimana? Dan yang paling sulit: mencegah mantan anggota Hamas menyusup ke dalam pemerintahan baru. Ini PR berat yang harus dijawab oleh semua anggota BoP.
Biar organisasinya makin tenar, Trump mungkin akan cari lahan garapan lain. Misalnya, mencoba menyelesaikan perang di Ukraina. Kalau berhasil, wah, pengaruh sang ketua seumur hidup ini bakal makin menggurita. Sekalipun nanti dia sudah pensiun dari kursi kepresidenan.
(Pega Aji Sitama)
Artikel Terkait
Hilang di Lereng Lawu, Pencarian Yasid Masih Mentok di Hari Kesembilan
Kapolres Depok Bantu Tukang Es Gabus dengan Motor dan Jaminan Keamanan
Havas Buka Suara: Palestina Punya Peran Kunci di Board of Peace
Keluarga Diserang Usai Nyaris Tabrak Pemotor di Luwu, Istri dan Tiga Balita Terluka Bakar