Di sisi lain, pengungsian warga terus diatur. Data sementara menyebut 113 jiwa dari 34 KK terdampak langsung. Namun jumlah yang mengungsi jauh lebih besar, mencapai 498 jiwa. Mereka saat ini ditampung di aula Kantor Desa Pasirlangu. Tak hanya jiwa, material juga rusak: 30 unit rumah di Kampung Pasirkuning dan sekitarnya ikut menjadi korban amukan tanah.
Di lapangan, upaya penanganan berjalan pada dua lini. Lini pertama adalah pencarian korban oleh tim gabungan. Lini kedua adalah memastikan korban yang selamat bisa bertahan dengan layak. Untuk itu, Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat bersama Tagana mendirikan dapur umum darurat di SDN 1 Pasirlangu, persis di samping kantor desa. Hebatnya, dapur ini mampu memproduksi sekitar 4.500 paket makanan per hari untuk tiga kali waktu makan, didanai APBD setempat.
Status tanggap darurat resmi ditetapkan Pemkab Bandung Barat hingga 6 Februari mendatang. Ini jadi landasan hukum mobilisasi semua sumber daya. Namun di balik upaya terstruktur itu, proses identifikasi korban berjalan pelan, penuh tantangan.
Hingga laporan ini dibuat, dari 17 korban meninggal, baru 10 yang berhasil diidentifikasi. Tujuh lainnya masih menunggu. Proses verifikasi ahli waris pun tak mudah. Kondisi lokasi yang sulit, jaringan komunikasi yang terputus, dan tentu saja, rasa pilu keluarga yang masih berharap-harga kecil, menjadi kendala yang manusiawi.
Langit di Pasirlangu mungkin masih kelabu. Tapi di tanah yang bergerak itu, harapan dan tenaga para penolong terus dikerahkan, tanpa jeda.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Perketat Patroli dan Pengawasan di Titik Rawan Pencurian Fasum
Gubernur Anung Berang, Trotoar Kramat Jaya Hancur Diduga Dicuri Kabel
Ketika Menolong Jadi Perkara: Dilema Warga di Balik Kasus Begal Sleman
Tiga Fraksi Kunci DPR Tegaskan Polri Harus Tetap di Bawah Presiden