Buni Yani: Dari Pahlawan Al-Maidah ke Terlupakan

- Senin, 26 Januari 2026 | 06:25 WIB
Buni Yani: Dari Pahlawan Al-Maidah ke Terlupakan

Setiap kali sejarah 212 dibuka, namanya selalu muncul. Sentral. Tak tergantikan. Gelar itu melekat erat, menjadi tameng kehormatan meski ia harus merasakan dinginnya lantai penjara. Ini membuktikan sesuatu: dalam panggung sejarah Indonesia, kepahlawanan kerap ditentukan bukan oleh yang memegang palu hakim, tapi oleh yang memegang keyakinan di hati rakyat.

Memasuki tahun 2026 ini, narasinya telah bertransformasi jadi prasasti hidup. Ia bukan lagi sekadar individu, melainkan simbol. Personifikasi keberanian warga biasa yang sanggup mengguncang tatanan kekuasaan paling mapan sekalipun.

Gelarnya mengandung makna "Sang Pendobrak". Di atmosfer politik yang dianggap mencekam, ia muncul meruntuhkan tembok impunitas. Bagi mereka, ia membuktikan bahwa narasi rakyat, jika disuarakan lantang, bisa kalahkan narasi besar istana.

Keteguhannya menjalani hukuman tanpa merunduk, jadi bumbu heroik. Penjara baginya bukan tempat penghinaan, melainkan "kawah candradimuka" yang menyucikan perjuangan. Pahlawan yang tak lari dari tanggung jawab.

Sekarang, setiap isu ketidakadilan hukum mencuat, namanya dipanggil kembali. Pengingat. Ia pahlawan bagi yang merasa tak bersuara. Pejuang yang membuktikan: satu unggahan, satu percikan keberanian, bisa ubah garis takdir bangsa dan jatuhkan raksasa yang tampak tak terkalahkan.

Fenomena Buni Yani sudah jadi semacam mitologi politik. Gelarnya tak butuh validasi negara. Ia "dinobatkan" oleh sejarah sebagai sosok yang mengubah arah angin zaman. Dalam diskusi agama dan negara, namanya tetap rujukan utama.

Keberhasilannya melawan arus kekuasaan pada masanya, kini dilihat sebagai fenomena nyaris sempurna. Simbol bahwa di era informasi, kedaulatan tak lagi mutlak di gedung pemerintahan, tapi tersebar di ujung jemari rakyat.

Bagi aktivis generasi baru, ia adalah "studi kasus" tentang keteguhan. Meski kehilangan kemerdekaan fisik 1,5 tahun, ia dianggap memenangkan "pertempuran sejarah" yang lebih besar. Pahlawan yang bayar harga mahal untuk sebuah perubahan lanskap politik perubahan yang dampaknya masih terasa sampai sekarang.

Pada akhirnya, Buni Yani membagi sejarah Indonesia jadi dua: sebelum dan sesudah peristiwa al-Maidah. Ia tetap pahlawan bagi yang rindu keadilan transendental. Sekaligus pengingat bagi penguasa mana pun: suara rakyat, sekecil apa pun, bisa picu badai yang runtuhkan singgasana paling kokoh.

Tapi, ya. Buni Yani kini seolah dilupakan.

Adakah yang masih bertanya bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana ia menjalani hari-harinya? Apa keluarganya baik-baik saja? Sayangnya, kita mungkin terlalu sibuk mengurus diri sendiri.


Halaman:

Komentar