Buni Yani, Sang Pahlawan al-Maidah yang Terlupakan
Oleh Bayu Pratama
Pengamat Sosial dan Politik
Jakarta kerap riuh. Di tengah perdebatan yang tak kunjung reda, muncul seorang pria bernama Buni Yani. Ia bukan cuma dosen. Jemarinya, lewat sebuah unggahan digital, disebut-sebut mampu menggetarkan singgasana kekuasaan yang mapan.
Bagi banyak kalangan, ia adalah mualim yang menyingkap tabir. Seorang saksi di garis depan. Ia mempertaruhkan segalanya kenyamanan, karier demi sebuah kalimat dalam Kitab Suci. Di mata mereka, inilah pahlawan. Sosok kecil yang berani menantang raksasa, menunjuk hidung kekuasaan saat dianggap melampaui batas sakralitas.
Tapi narasi itu punya wajah lain. Ruang sidang yang dingin punya cerita berbeda.
Di sana, Buni Yani bukan penyelamat. Ia adalah pemantik api dalam sekam. Hukum melihatnya sebagai pelanggar aturan di jagat digital. Vonis Undang-Undang ITE pun menjeratnya, membawanya ke balik jeruji. Perlawanannya terhadap Ahok dan secara tak langsung, terhadap lingkaran kekuasaan menjadikannya simbol. Korban kriminalisasi, martir modern yang dikorbankan demi stabilitas. Tindakannya disebut mengguncang negara dan meruntuhkan karier seorang pemimpin.
Kini, jejaknya tertinggal sebagai pengingat. Betapa dahsyatnya sebuah informasi bisa berubah jadi senjata. Antara sanjungan "Pahlawan al-Maidah" dan cap terpidana, namanya tetap menjadi noktah penting dalam demokrasi kita. Satu unggahan, mampu menggerakkan jutaan langkah dan mengubah arah politik bangsa.
Perjalanannya tak berhenti di Bandung. Waktu bergulir, narasi tentang dirinya tetap hidup. Ia jadi semacam monumen ingatan bagi yang yakin: hukum bisa jadi instrumen kekuasaan yang tajam sebelah.
Di panggung reuni atau pertemuan para tokoh, namanya masih dielu-elukan. Layaknya prajurit pulang dari medan laga, ia dipandang sebagai martir yang telah menunaikan tugas. Penghormatan dari mimbar itu adalah legitimasi moral bagi massa yang merasa suaranya tersumbat.
Gelar "pahlawan" untuknya bukan dari negara. Bukan dari surat keputusan. Gelar itu lahir dari jalanan, dari gemuruh takbir yang memadati Monas saat Aksi Bela Islam berkumandang. Ini perlawanan simbolis. Saat negara menetapkannya pesakitan, basis massanya justru menobatkannya pemenang moral.
Ia disebut pahlawan "al-Maidah" karena dianggap sebagai muazin sang pengumandang yang membangunkan umat. Bagi pendukungnya, Buni Yani mengorbankan segalanya demi menjaga marwah kitab suci dari penistaan. Dalam narasi mereka, ia bagai "Daud" kecil yang melawan "Jalut" modern.
Artikel Terkait
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta
IKN di Ujung Tanduk: Kota Megah atau Kota Hantu?
Gelar Bergelimpang, Dompet Menipis: Ironi Lulusan Perguruan Tinggi
Panik di Internal PSI: Ahmad Ali Buru-buru Klarifikasi Soal Gibran Lawan Prabowo