Reformasi Yang Sesungguhnya
Dulu, jauh sebelum kita mengenal istilah-istilah politik modern, dunia sudah menyaksikan pertarungan dua raksasa. Persia dan Romawi. Konflik mereka begitu dahsyat, sampai-sampai Al-Qur'an menyediakan ruang khusus untuk membicarakannya, lewat Surah Ar-Rum. Kenapa Romawi yang dijadikan nama surah? Karena saat itu, mereka-lah yang keluar sebagai pemenang. Meski praktiknya sudah jauh menyimpang, Romawi saat itu masih membawa risalah kenabian. Berbeda dengan Persia yang kala itu dikuasai paham Zoroaster, menyembah api.
Kemenangan Romawi atas Persia ternyata tak banyak artinya. Di dalam negeri, situasi justru carut-marut. Rezim yang berkuasa kehilangan kendali. Moralitas sosial rusak parah. Pemicunya? Kebijakan otoriter, pajak yang mencekik leher, korupsi yang merajalela. Hak-hak rakyat biasa terinjak-injak. Suasana saat itu benar-benar suram.
Di tengah kondisi seperti inilah, Nabi Muhammad Saw diutus. Misi utamanya jelas: memperbaiki akhlak.
Ya, sederhana saja. "Perbaikan akhlak". Itulah reformasi yang sesungguhnya.
Jadi, inti dari segalanya bukan sekadar ganti struktur pemerintahan atau ubah sistem ekonomi. Bukan. Titik awalnya adalah membenahi karakter manusia. Memang, nantinya perbaikan akhlak ini akan berdampak besar. Ia akan mengoreksi struktur organisasi negara dan tatanan sosial-ekonomi masyarakat. Tapi itu semua adalah efek samping yang wajar, buah alami dari sebuah masyarakat yang karakternya sudah dibenahi.
Allah membimbing para Rasul-Nya lewat jalan yang tidak mudah. Ujian dan penderitaan adalah bagian dari proses itu. Tujuannya, agar mereka bisa menjadi teladan. Bahwa untuk meraih kemuliaan, melewati cobaan berat adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada jalan pintas.
Artikel Terkait
Tim SAR Siap Lanjutkan Pencarian di Gunung Burangrang, Modifikasi Cuaca Digelar
Meninggal di Usia 26, Lula Lahfah Jadi Korban Silent Killer Henti Jantung
Tito Karnavian Buka Huntara di Agam, Desak Data Korban Segera Diselesaikan
Prabowo di Davos: Diplomasi Ekonomi dan Langkah Berani di Panggung Retak