Reformasi yang Gagal: Akar Masalahnya Bukan di Sistem, Tapi di Akhlak

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 21:00 WIB
Reformasi yang Gagal: Akar Masalahnya Bukan di Sistem, Tapi di Akhlak

Reformasi Yang Sesungguhnya

Dulu, jauh sebelum kita mengenal istilah-istilah politik modern, dunia sudah menyaksikan pertarungan dua raksasa. Persia dan Romawi. Konflik mereka begitu dahsyat, sampai-sampai Al-Qur'an menyediakan ruang khusus untuk membicarakannya, lewat Surah Ar-Rum. Kenapa Romawi yang dijadikan nama surah? Karena saat itu, mereka-lah yang keluar sebagai pemenang. Meski praktiknya sudah jauh menyimpang, Romawi saat itu masih membawa risalah kenabian. Berbeda dengan Persia yang kala itu dikuasai paham Zoroaster, menyembah api.

Kemenangan Romawi atas Persia ternyata tak banyak artinya. Di dalam negeri, situasi justru carut-marut. Rezim yang berkuasa kehilangan kendali. Moralitas sosial rusak parah. Pemicunya? Kebijakan otoriter, pajak yang mencekik leher, korupsi yang merajalela. Hak-hak rakyat biasa terinjak-injak. Suasana saat itu benar-benar suram.

Di tengah kondisi seperti inilah, Nabi Muhammad Saw diutus. Misi utamanya jelas: memperbaiki akhlak.

Ya, sederhana saja. "Perbaikan akhlak". Itulah reformasi yang sesungguhnya.

Jadi, inti dari segalanya bukan sekadar ganti struktur pemerintahan atau ubah sistem ekonomi. Bukan. Titik awalnya adalah membenahi karakter manusia. Memang, nantinya perbaikan akhlak ini akan berdampak besar. Ia akan mengoreksi struktur organisasi negara dan tatanan sosial-ekonomi masyarakat. Tapi itu semua adalah efek samping yang wajar, buah alami dari sebuah masyarakat yang karakternya sudah dibenahi.

Allah membimbing para Rasul-Nya lewat jalan yang tidak mudah. Ujian dan penderitaan adalah bagian dari proses itu. Tujuannya, agar mereka bisa menjadi teladan. Bahwa untuk meraih kemuliaan, melewati cobaan berat adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada jalan pintas.

Karena itulah, reformasi hampir pasti gagal ketika para aktornya tak tahan hidup susah. Ketika mereka lebih memilih gaya hidup glamor dan serba enak. Jiwa yang lemah seperti ini takkan sanggup menggotong beban perubahan.

Lihatlah perjalanan Nabi Muhammad. Beliau dihina, dicemooh, dilecehkan. Secara ekonomi diboikot, secara politik diperangi. Hingga akhirnya harus hijrah dari Mekah ke Madinah. Dari sana, beliau membangun tatanan masyarakat baru. Dan hanya dalam waktu 23 tahun, imperium besar seperti Romawi dan Persia pun runtuh diterpa kekuatan dari masyarakat yang akhlaknya telah dibangun.

Nah, sekarang. Di tanah air kita hari ini, banyak orang bicara tentang kegagalan reformasi. Korupsi seolah tak terbendung, rakyat kecil makin terdesak oleh kebijakan yang memberatkan, sementara para pejabat sibuk dengan gaya hidup hedonis.

Pertanyaannya, maukah kita menerima sebuah pernyataan yang mungkin terdengar klise? Bahwa solusi sesungguhnya adalah kembali ke hal yang paling mendasar: memperbaiki akhlak bangsa. Mendorong, bahkan menuntut, para pejabat untuk hidup bersih dan menjauhi korupsi.

Dan jika mereka abai, bersediakah kita untuk benar-benar memerangi mereka?

Jawabannya, silakan direnungkan sendiri.


Penulis: Hasanudin

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar