Karena itulah, reformasi hampir pasti gagal ketika para aktornya tak tahan hidup susah. Ketika mereka lebih memilih gaya hidup glamor dan serba enak. Jiwa yang lemah seperti ini takkan sanggup menggotong beban perubahan.
Lihatlah perjalanan Nabi Muhammad. Beliau dihina, dicemooh, dilecehkan. Secara ekonomi diboikot, secara politik diperangi. Hingga akhirnya harus hijrah dari Mekah ke Madinah. Dari sana, beliau membangun tatanan masyarakat baru. Dan hanya dalam waktu 23 tahun, imperium besar seperti Romawi dan Persia pun runtuh diterpa kekuatan dari masyarakat yang akhlaknya telah dibangun.
Nah, sekarang. Di tanah air kita hari ini, banyak orang bicara tentang kegagalan reformasi. Korupsi seolah tak terbendung, rakyat kecil makin terdesak oleh kebijakan yang memberatkan, sementara para pejabat sibuk dengan gaya hidup hedonis.
Pertanyaannya, maukah kita menerima sebuah pernyataan yang mungkin terdengar klise? Bahwa solusi sesungguhnya adalah kembali ke hal yang paling mendasar: memperbaiki akhlak bangsa. Mendorong, bahkan menuntut, para pejabat untuk hidup bersih dan menjauhi korupsi.
Dan jika mereka abai, bersediakah kita untuk benar-benar memerangi mereka?
Jawabannya, silakan direnungkan sendiri.
Penulis: Hasanudin
Artikel Terkait
Berbuka Puasa di Denpasar Hari Ini Pukul 18.36 WITA
Bamsoet Ingatkan Wacana KPU sebagai Pilar Keempat Perlu Kajian Mendalam
PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman untuk Lebaran di Sulsel, Sultra, dan Sulbar
LPSK Berikan Perlindungan Darurat kepada Aktivis KontraS Korban Siraman Air Keras