Bogor – Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian untuk Gaza yang digagas Amerika Serikat menuai kritik. Kali ini, suara itu datang dari Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi.
Menurut Kiai Muhyiddin, dunia Islam dan bangsa Palestina sendiri harus benar-benar memperhatikan pembentukan dewan ini. Tujuannya jelas: agar proses rekonstruksi Gaza nantinya selaras dengan aspirasi rakyat Palestina. Mereka, kata dia, adalah pemilik sah wilayah itu.
"Board of Peace besutan Presiden Donald Trump belum mencerminkan keinginan bangsa Palestina dan dunia Islam,"
Demikian pernyataan tertulisnya yang diterima pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Dia punya catatan serius. Menurutnya, dewan ini baru bisa berfungsi maksimal kalau terbebas dari hegemoni kekuatan tertentu. Terutama pengaruh Trump yang selama ini dikenal begitu berpihak pada Israel. Bahkan, dukungannya disebut ikut mengawali perang genosida di Gaza.
Di sisi lain, komposisi kepengurusan dan arah kebijakan dewan ini dinilai masih bermasalah. Kenapa? Karena tak melibatkan tokoh, pemimpin, apalagi rakyat Gaza secara langsung. Padahal, merekalah pihak yang paling paham betul kondisi sosial, budaya, dan kebutuhan riil di tanah mereka sendiri.
Kiai Muhyiddin menegaskan satu hal: Gaza adalah wilayah berdaulat milik bangsa Palestina. Bukan milik AS atau perusahaan internasional mana pun. Keterlibatan pihak asing, jika ada, seharusnya hanya sebatas bentuk empati dan dukungan kemanusiaan. Bukan untuk mengendalikan penuh proses rekonstruksi.
Artikel Terkait
Prabowo Kembali ke Ibu Kota Usai Lawatan Diplomasi Tiga Negara Eropa
Chairil Gibran Ramadhan: Menentang Lupa dengan Puisi dan Catatan Kaki
Angin Kencang di Yogyakarta Tewaskan Dua Warga, Puluhan Titik Rusak
Tim SAR Berjuang di Tengah Hujan dan Lumpur Tebal Evakuasi Korban Longsor Bandung Barat