Wacana Pemusnahan Angkot Tua di Bogor Tuai Tanggapan Warga
Rencana Pemkot Bogor untuk memusnahkan angkot berusia lebih dari 20 tahun ternyata tak hanya jadi perbincangan di ruang rapat. Di jalanan, wacana ini menyentuh langsung kehidupan sehari-hari. Bagi banyak orang, angkot bukan sekadar besi beroda, tapi bagian dari denyut nadi kota.
Di Stasiun Bogor, Sabtu lalu, Aji Nur (58) mengaku masih sering naik angkot. "Saya juga kadang-kadang ngangkot. Walaupun saya punya kendaraan," ujarnya.
Kekhawatirannya sederhana: kalau angkot tua dimusnahkan dan jumlahnya menyusut, yang rugi ya pengguna. "Pengguna ya merugi juga kan," katanya.
Namun begitu, Aji tidak sepenuhnya menolak kebijakan itu. Menurutnya, langkah pemerintah untuk mengurangi angkot tua demi keselamatan itu sudah benar. Hanya saja, dia mendesak agar nasib sopir yang bergantung pada setir itu jangan dilupakan. Bagaimana mereka yang tak sanggup beli mobil baru? "Jadi jangan sampai menindas rakyat kecil," tegas Aji.
Solusinya, dia menyarankan dialog. "Ayo kita berbarengan, bermusyawarah untuk yang baik. Kan dia juga butuh makan, anak istri."
Keresahan serupa terlihat di Pasar Bogor. Maman (44) yang bukan pengguna rutin angkot justru merasa kasihan pada para sopir. "Kasihannya kan kalau kayak gitu dia enggak narik, gimana?" ucapnya.
Artikel Terkait
Tim SAR Berjuang di Tengah Hujan dan Lumpur Tebal Evakuasi Korban Longsor Bandung Barat
Pabrik Narkoba Sintetis di Kebon Jeruk Digerebek, Potensi Produksi 10 Kilogram
Guru Honorer yang Dulu Joget Dukung Prabowo-Gibran, Kini Galau Lihat Orang Lain Jadi ASN
Jenazah Terakhir Korban ATR 42-500 Diserahkan, Keluarga Berduka di Makassar