JAKARTA – Seorang warga negara Indonesia akhirnya dicokok polisi. Dia diduga jadi otak perdagangan manusia yang melibatkan pengungsi Rohingya. Inisialnya HS, dan perannya dalam jaringan ini disebut-sebut sangat krusial.
Brigjen Untung Widyatmoko dari Divisi Hubinter Polri membenarkan penangkapan itu. Menurutnya, HS bertindak sebagai koordinator.
“Koordinator TPPO warga Rohingya ke luar negeri,” tegas Untung saat dikonfirmasi, Jumat lalu.
Pelaku ini orang Aceh. Modus operasinya, dia memasukkan rombongan warga Rohingya lewat perairan Aceh. Tapi, Indonesia bukan tujuan akhir. Dari sini, korban-korban itu kemudian disalurkan lagi ke berbagai negara.
“Dia memasukkan banyak warga Rohingya ke Aceh. Kemudian disalurkan ke Malaysia, Kuala Lumpur, hingga India. Ada beberapa negara tujuan,” jelas Untung.
Yang lebih keji, ini bisnis. “Dia menjual jasa per kepala warga Rohingya,” tambahnya. Tarif per orang, tentu saja, tidak disebutkan.
HS bukan penjahat kaleng-kaleng. Dia buronan Interpol. Upaya pelariannya sampai ke Turki pun akhirnya gagal. Rabu, 21 Januari 2026, tangannya berhasil diborgol.
Jaringannya ternyata luas dan terorganisir. Pria ini diduga punya peran strategis, memfasilitasi penyelundupan lewat jalur laut dengan memanfaatkan lokasi geografis Aceh. Operasinya berskala internasional.
Lalu, bagaimana dengan nasib warga Rohingya yang jadi korban? Untung membeberkan, sebagian besar mereka sebenarnya ingin keluar dari Bangladesh. Indonesia cuma tempat singgah sementara.
“Warga Rohingya ini banyak yang ingin keluar dari Bangladesh. Indonesia itu hanya transit,” ujarnya.
Tujuan akhir mereka, kata Untung, adalah Australia atau Malaysia. Mencari kehidupan yang lebih baik, mungkin. Namun, perjalanan yang seharusnya penuh harapan itu malah dieksploitasi oleh orang seperti HS untuk keuntungan pribadi.
Artikel Terkait
Lille Kalahkan Paris FC 1-0 Lewat Penalti, Kokoh di Papan Atas Ligue 1
Alex Marquez Menang di MotoGP Spanyol 2026 Usai Marc Marquez Jatuh, Bezzecchi Kokoh di Puncak Klasemen
Lebih 800 Alumni Unair Reuni di Jakarta, Hadirkan PADI Reborn hingga Bincang Strategis
Psikolog Ungkap Bahaya Merasionalkan Pelecehan: Tubuh Beri Sinyal, Jangan Diabaikan