Bayangkan ruang kelas masa kini. Seringkali gambaran yang muncul adalah sebuah ruang futuristik penuh layar sentuh berkilau, seolah-olah papan tulis kapur dan spidol sudah jadi barang museum. Memang, kemajuan pendidikan kerap diukur dari kecanggihan perangkat yang menempel di dinding.
Tapi di balik slide-slide digital yang mulus dan estetis itu, ada ironi yang cukup mengusik. Sebagai pengajar, kita kerap terjebak dalam sebuah dilema tanpa sadar: apakah teknologi ini benar-benar memudahkan belajar, atau justru membuat siswa 'kebanyakan' sebelum sempat mencerna?
Godaan untuk bersandar sepenuhnya pada PowerPoint itu nyata dan manusiawi. Slide memberi kita rasa aman, sebuah peta jalan yang tak akan membuat kita tersesat di tengah pelajaran. Tapi coba kita jujur. Bukankah seringkali slide itu cuma kliping digital dari buku teks? Sebuah contekan modern yang kita andalkan agar tak kehilangan jejak materi.
Kita mengumpulkan definisi, data, dan poin-poin penting ke dalam catatan digital. Itu wajar. Masalahnya mulai menganga saat catatan pribadi itu kita pindahkan mentah-mentah ke layar depan kelas. Jadilah apa yang sejak era 90-an dikenal sebagai "Death by PowerPoint". Tanpa sengaja, kita menyajikan tembok teks yang padat kepada anak didik.
Murid jadi merasa 'mual' duluan sebelum sempat 'kenyang'. Alih-alih memicu rasa ingin tahu, selera belajar mereka justru hilang seketika dihadapkan pada paragraf yang berderet tak berujung.
Menariknya, berbagai riset pedagogis justru menunjukkan bahwa meninggalkan papan tulis sepenuhnya adalah sebuah kesalahan. Kekuatan utamanya terletak pada tempo. Saat seorang guru menulis atau menggambar di papan secara real-time, ada proses yang disebut generative drawing yang terjadi.
Aktivitas fisik ini memaksa pelajaran berjalan dalam kecepatan manusia, bukan kecepatan komputer. Jeda saat guru menulis memberi waktu bagi otak siswa untuk 'bernapas' dan mengejar alur logika. Hal ini selaras dengan teori beban kognitif John Sweller, yang memperingatkan bahwa membanjiri memori kerja dengan terlalu banyak informasi visual sekaligus justru akan melemahkan daya serap.
Artikel Terkait
Imlek 2026, Kue Keranjang Bertemu Pisang dalam Harmoni Rasa dan Makna
Prabowo Buka Suara Empat Jam di Kertanegara, Bahas Reformasi Polri hingga Gaza
Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas, Status Siaga Tetap Dipertahankan
Kurir COD Babak Belur Dikeroyok di Cianjur, Hanya Karena Titip Uang