Di sisi lain, papan tulis punya peran vital dalam cara murid mencatat. Sebuah penelitian oleh Müller dan Oppenheimer (2014) mengungkap bahwa siswa yang hanya menyalin kata per kata cenderung punya pemahaman yang dangkal.
Slide yang terlalu sempurna dan lengkap mengubah murid menjadi mesin fotokopi. Mereka menyalin tanpa berpikir karena semuanya sudah tersaji instan. Mereka menjadi pasif.
Sebaliknya, ritme papan tulis yang lebih lambat memberi ruang untuk pemrosesan mendalam. Karena tak bisa menyalin semua dengan cepat, otak siswa dipaksa untuk meringkas, menyaring, dan menerjemahkan konsep ke dalam bahasanya sendiri. Di sinilah pembelajaran sesungguhnya terjadi saat informasi diolah dan direkonstruksi dalam pikiran, bukan sekadar dipindahkan dari proyektor ke buku catatan.
Namun begitu, tulisan ini sama sekali bukan seruan untuk anti-teknologi. Mustahil menutup mata pada efisiensi dan kemampuan visual yang ditawarkan dunia digital. Grafik rumit, video dokumenter, atau data statistik tentu lebih pas disajikan lewat proyektor. Kuncinya adalah membedakan fungsi: mana slide yang berperan sebagai arsip guru, dan mana yang benar-benar menjadi alat bantu bagi murid.
Tujuan kita sekarang adalah menguasai seni kelas hibrida. Pakai proyektor untuk menampilkan visual yang tak bisa dibuat tangan. Lalu, ambil kembali spidol saat waktunya tiba untuk mengurai ide dan membangun argumen langkah demi langkah.
Di era otomatisasi dan kecerdasan buatan seperti sekarang, gerakan tangan guru yang 'menari' di permukaan papan tulis menjadi simbol penting. Ia mengingatkan bahwa belajar adalah sebuah proses, bukan produk jadi yang siap diunduh. Layar mungkin memberikan informasi, tetapi papan tulis tetaplah panggung terbaik untuk membangun pemahaman.
Artikel Terkait
Interpol Akhirnya Terbitkan Red Notice untuk Riza Chalid Setelah Proses Alot Empat Bulan
Reruntuhan Hidup di Antara Nisan: Kisah 100 Keluarga yang Tergusur Demi Makam
Bahar Bin Smith Ditetapkan Tersangka Penganiayaan Anggota Banser
Trotoar Kertamukti: Kabel Menggantung dan Sampah Menumpuk, Pejalan Kaki Terancam