Di forum bergengsi World Economic Forum di Davos, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keyakinannya. Salah satu program andalannya, Cek Kesehatan Gratis atau CKG, disebutnya bisa menghemat anggaran negara. Logikanya sederhana: dengan mendeteksi penyakit lebih awal, biaya pengobatan yang mahal di kemudian hari bisa ditekan.
Tapi, di Jakarta, ceritanya agak berbeda. Kementerian Kesehatan justru memprediksi beban anggaran bakal membengkak di tahun 2026. Bukan hemat, malah tambah.
Menurut Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Endang Sumiwi, ini adalah konsekuensi yang sebenarnya sudah bisa ditebak. "Ketika kita jemput bola, cari penyakit sejak dini, ya jumlah kasus yang ketemu pasti meledak," ujarnya. Program yang masif itu membuka tabir banyak masalah kesehatan yang sebelumnya tak terdeteksi.
"Tentu saja tahun pertama justru karena kita menemukan lebih banyak penyakit di awal, akan terjadi peningkatan (anggaran). Tetapi peningkatan yang tidak terlalu banyak karena ditangani di layanan primer yang biayanya lebih rendah,"
Endang menjelaskan via konferensi pers Zoom, Jumat lalu. Data mentahnya cukup mencengangkan: ada potensi tambahan sekitar 10 juta orang, termasuk lansia, yang kini diketahui punya hipertensi. Bayangkan beban layanan kesehatannya.
Artikel Terkait
Hujan Deras Picu Status Siaga di Sejumlah Pintu Air Jabodetabek
Gedung Pemerintah Aceh Tamiang Bangkit, Berkat Tenaga Praja IPDN
Bima Arya Gelar Rapat Kunci, Siapkan Panggung APCAT Summit 2026 di Jakarta
Hakim Bebaskan Admin Mahasiswa karena Dakwaan Aplikasi Canva atau Lainnya Dinilai Tak Jelas