Prabowo paham betul risikonya jika berhadap-hadapan langsung dengan Jokowi, sosok yang pengaruhnya masih kuat di mana-mana. Naluri militernya sebagai mantan Danjen Kopassus membuatnya lebih memilih pendekatan lain.
katanya.
Nah, pencabutan izin Toba Pulp inilah yang disebutnya sebagai serangan senyap. Secara formal, alasannya hukum dan lingkungan. Tapi dampak politiknya langsung menghantam simbol-simbol kekuasaan lama.
Pesan yang dikirim pun ganda. Ke publik, Prabowo ingin tampil sebagai pemimpin yang tak terikat kompromi masa lalu. Sementara ke kalangan elite dan pebisnis, pesannya lebih tegas: jangan merasa aman hanya karena dulu dekat dengan Jokowi atau Gibran.
tegas Amir.
Lebih luas lagi, Amir melihat ini sebagai bagian dari fase awal konsolidasi kekuasaan Prabowo. Membersihkan kebijakan kontroversial rezim sebelumnya dianggap penting untuk membangun legitimasi moral di mata rakyat.
ujarnya.
Memang belum ada konflik terbuka. Namun begitu, Amir meyakini hubungan Prabowo dan Jokowi akan memasuki fase kompetisi diam-diam, apalagi jika Gibran benar-benar diusung untuk Pilpres 2029.
Suasana saat ini mungkin masih senyap. Tapi arah anginnya sudah jelas. Prabowo sedang mengamankan posisinya, dan masa depan politiknya jelas tak bisa lagi disandarkan pada geng Jokowi.
Artikel Terkait
Nastar hingga Kue Kacang: Kisah di Balik Kue Kering Wajib Lebaran
Once Mekel Dorong Keseimbangan Hak Cipta dan Akses Publik dalam Revisi UU
Batu Karst Pundo Siping, Kejutan Alam Fotogenik di Tengah Lahan Kering Jeneponto
Komisi VIII DPR Pastikan Persiapan Haji 2026 Berjalan, Arab Saudi Belum Beri Penjelasan Resmi