Lumpur masih di mana-mana. Debu dan rasa lelah menyelimuti, tapi di tengah puing-puing bencana itu, seragam loreng justru membawa sesuatu yang lebih. Di Sumatra Barat dan sekitarnya, para prajurit TNI turun langsung. Mereka membaur, bekerja tanpa banyak bicara. Perannya nyata, jauh melampaui sekadar membangun infrastruktur yang rusak.
Mereka terjun ke hal-hal yang sangat manusiawi, menyentuh kehidupan sehari-hari warga yang terdampak.
Di Desa Hutagodang, Kecamatan Batangtoru, Jumat lalu, suasana itu terasa. Beberapa personel bahu-membahu membersihkan rumah seorang warga, Sitompul, dari endapan lumpur yang mengeras. Tak jauh dari situ, di Masjid Subulul Ubudyah, kuas cat bergerak perlahan. Sentuhan warna baru di dinding masjid seperti secercah harapan, agar warga bisa segera beribadah dengan tenang lagi.
Semangat serupa terpancar di SMP Swasta Fransiskus, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah. Dengan sepatu boot dan cangkul, mereka membersihkan ruangan demi ruangan. Kabarnya, progresnya sudah mencapai 93 persen. Angka itu bicara banyak soal ketekunan mereka.
Lalu ada SDN 152981 Tukka. Di sana, selain pembersihan total, pengecatan dilakukan agar anak-anak bisa kembali belajar dengan layak. Namun begitu, kerja mereka tak cuma soal bangunan. Di Desa Purba Sinamba, misalnya, perhatian tertuju pada sebuah jembatan gantung. Papan lantainya yang rusak diperbaiki satu per satu. Bagi warga setempat, jembatan itu urat nadi. Tanpanya, aktivitas sehari-hari lumpuh.
Di sisi lain, yang tak kalah penting adalah urusan perut. Beberapa dapur umum didirikan, seperti di Desa Tilang Julu dan halaman Kantor Camat Batang Toru. Di sanalah pemandangan lain terlihat: prajurit dengan cekatan memotong bawang, meracik bumbu, memasak untuk ribuan orang. Suasana hangat, penuh canda, terutama saat mereka ngobrol dengan ibu-ibu sekitar. Humanis sekali. Sama seperti di Ran Durlap Mabes TNI di Desa Poriaha, di mana ketegasan seragam sejenak luluh oleh kepedulian.
Peran mereka bahkan merambah ke layanan kesehatan. Di tenda pengungsian Desa Batu Hula dan permukiman warga Hutagodang, personel TNI dengan alat seadanya memeriksa keluhan warga. Mereka bertindak layaknya tenaga medis, mendengarkan dengan sabar, menunjukkan kepedulian yang tulus.
Intinya, kehadiran mereka ini memberi lebih dari sekadar rasa aman. Ia membangkitkan semangat untuk bangkit. Di Sumatra Barat dan wilayah sekelilingnya, prajurit-prajurit ini membuktikan satu hal: TNI hadir bukan sebagai simbol, tapi sebagai mitra yang berjuang bersama di masa-masa tersulit.
Artikel Terkait
Garuda Indonesia Gelar Travel Fair, Siapkan 40 Ribu Kursi Promo untuk Umrah dan Haji
Bukan Pesut, Lumba-Lumba Putih yang Muncul di Sungai Asahan
Gadis 11 Tahun Nekat Jalan Kaki 17 Km Sendirian di Malam Hari untuk Temui Nenek
Wali Kota Tangerang Alihkan Belajar ke Daring, Imbas Banjir yang Belum Surut