Di bawah langit Surabaya yang mendung, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyempatkan diri melihat langsung kerja pompa air di Darmokali, Wonokromo. Kunjungannya Kamis lalu itu bukan sekadar formalitas. Ia ingin mengulik sistem pengendalian banjir kota ini, yang disebut-sebut berhasil meminimalisir genangan secara signifikan. Menurutnya, keberhasilan Surabaya patut jadi acuan bagi daerah lain di Indonesia.
Namun begitu, Bima Arya tak menampik bahwa tantangan ke depan makin berat, terutama soal cuaca ekstrem. Inovasi mutlak diperlukan. Ia menyebut rekayasa cuaca sebagai salah satu opsi, meski dengan tarif yang tak murah. “Itu kan mahal,” ujarnya. Biaya besar itu, lanjutnya, seringkali jadi kendala serius bagi pemerintah kabupaten dan kota.
“Saya tadi minta waktu Pak Wali untuk pelajari, ini untuk menginspirasi kota-kota yang lain juga bahwa banjir ini dari hulu ke hilir harus kita pikirkan. Ada memang inovasi rekayasa cuaca, tapi itu kan mahal, mungkin itu bisa di tingkat provinsi. Jawa Timur saya baru mendapatkan laporan dari Pak Sekda (Sekretaris Daerah) juga dengan sangat baik melakukan rekayasa cuaca tadi, melalui penaburan garam,” kata Bima.
Di sisi lain, ada solusi yang dirasa lebih terjangkau dan langsung terlihat dampaknya. Bima lantas menunjuk pada teknologi mekanis terintegrasi yang sudah dijalankan Pemkot Surabaya. Ia mendorong agar pendekatan serupa bisa diadopsi.
Artikel Terkait
Paket Ayam Tanpa Kepala dan Ancaman untuk Aktivis yang Vokal
Celah di Laut Maluku: DPR Soroti Penyelundupan WNA Tiongkok Lewat Jalur Terpencil
Gus Ipul Ingatkan Pendamping PKH: Tidak Ada Murid Titipan di Sekolah Rakyat
Dubes Iran di Jakarta: Aksi Protes Dibajak, Mossad dan CIA Dituding Dalangi Kekerasan