Cukup untuk apa uang segitu? Mungkin cuma buat menjahit baju batik Korpri mereka yang sudah lusuh. Kesejahteraan itu kini cuma tinggal logo emas di lengan baju. Sementara itu, mereka harus menyaksikan anggaran pendidikan dipakai untuk menggaji pegawai SPPG yang tugasnya mengantar makanan ke sekolah dengan layak. Sungguh sebuah pemandangan yang menyakitkan.
Setiap hari, rasa was-was dan kepanikan menghantui. Bukan cuma soal uang yang tak cukup, tapi juga ancaman "MBG beracun" dan status pekerjaan yang terus di ujung tanduk. Bagaimana mungkin kita mengharapkan pendidikan berkualitas dari guru-guru yang hidupnya dipenuhi kecemasan semacam ini?
Dan inilah kenyataan pahitnya: anak-anak kita, sebagian besar yang bersekolah di negeri, akan dididik oleh guru-guru dengan kondisi seperti itu. Guru PPPK Paruh Waktu, yang separuh hidup dan pikirannya mungkin tersita untuk sekadar bertahan hidup.
Jangan berpikir ini cuma urusan guru. Keliru besar. Masalah ini merugikan kita semua. Merugikan para pegawai yang anaknya sekolah negeri, dan merugikan seluruh rakyat Indonesia yang punya harapan sama: pendidikan berkualitas untuk generasi penerus.
Kita semua yang akan menanggung akibatnya.
Sebagai penutup, Iman mengingatkan kita pada pesan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Dalam sebuah panel tingkat tinggi tentang profesi guru, Guterres menegaskan, di tengah berbagai krisis yang menghantam, dukungan untuk guru adalah sebuah keharusan.
"Kita semua harus mendukung guru, seperti guru mendukung kita semua."
Pesan itu, sayangnya, masih terasa sangat jauh dari realitas yang terjadi di sini.
Artikel Terkait
Paket Ayam Tanpa Kepala dan Ancaman untuk Aktivis yang Vokal
Celah di Laut Maluku: DPR Soroti Penyelundupan WNA Tiongkok Lewat Jalur Terpencil
Gus Ipul Ingatkan Pendamping PKH: Tidak Ada Murid Titipan di Sekolah Rakyat
Dubes Iran di Jakarta: Aksi Protes Dibajak, Mossad dan CIA Dituding Dalangi Kekerasan