Lalu ada juga demensia vaskular, yang terkait kerusakan pembuluh darah otak. Gejalanya bisa campur aduk: lambat berpikir, mudah bingung, gangguan keseimbangan, plus perubahan emosi. Penurunannya sering bertahap, seperti turun tangga memburuk, lalu stabil, lalu memburuk lagi.
FTD sendiri punya beberapa bentuk. Ada yang dominan perubahan perilaku: jadi kasar, impulsif, norma sosialnya hilang. Ada yang dominan bahasa: susah cari kata, bicara jadi kacau. Sayangnya, dari luar, orang sering mengira ini cuma soal "kepribadian yang buruk" atau "makin tua makin keras kepala". Padahal, bisa jadi itu tanda otaknya sedang sakit.
Nah, kalau kita lihat ke panggung politik global, kita tak bisa tutup mata. Gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat yang sekarang, misalnya, kerap memicu kekacauan diplomatik. Ucapannya terkesan impulsif dan berubah-ubah, bikin sekutu bingung harus bersikap bagaimana.
Logikanya sederhana. Hubungan sehat butuh kepastian. Sama seperti di klinik: pasien butuh rencana terapi yang konsisten. Kalau dokternya hari ini bilang A, besok bilang B tanpa alasan jelas, ya percayanya hilang. Begitu juga dengan negara. Kalau pemimpinnya tak bisa menahan ucapan, yang runtuh bukan cuma etika tapi stabilitas.
Tapi, sebagai dokter, saya harus jujur. Kita tidak bisa mendiagnosis FTD atau demensia pada seseorang cuma dari potongan pidato atau video viral. Diagnosis butuh pemeriksaan langsung, tes kognitif, dan riwayat dari keluarga dekat. Bisa saja penyebabnya lain: gangguan tidur, depresi, atau efek obat-obatan.
Meski begitu, masyarakat punya hak untuk menilai hal yang sangat mendasar: apakah pemimpinnya menunjukkan konsistensi dan kontrol diri? Atau justru sebaliknya ucapannya liar dan tak terprediksi?
Dan di sinilah letak bahayanya. Memilih pemimpin yang menunjukkan penurunan kontrol diri apa pun penyebab medisnya adalah risiko besar. Pemimpin itu sumber sinyal. Satu kalimatnya bisa jadi komando, bisa jadi ancaman. Kalau sinyalnya kacau, seluruh birokrasi akan sibuk memadamkan api, bukan membangun bangsa.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Pelajaran untuk kita jelas: kesehatan otak pemimpin bukan urusan pribadi, ini urusan keselamatan publik. Ibaratnya, kita boleh bersimpati pada sopir bus yang sakit. Tapi kita tak akan pernah menyerahkan kemudi bus yang penuh penumpang kepada seseorang yang refleks dan kendalinya sudah menurun.
Kewaspadaan bukan berarti benci. Itu bentuk cinta pada masa depan. Negara bisa saja bertahan menghadapi ancaman dari luar. Tapi kerapuhan yang datang dari dalam dari mulut yang tak terkendali, dari pikiran yang impulsif, dari keputusan tanpa rem bisa menghancurkan segalanya.
EPW 22/1/2026
"Ket. Foto: Presiden RI, Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di sela KTT Perdamaian Gaza di Sharm El Sheikh, Mesir, pada Senin 13 Oktober 2025.
Artikel Terkait
Anwar Usman Buka Suara Soal Polemik Raja Bolos di MK
Takziah Berujung Ricuh: Wanita Diamankan Usai Curi Uang Sumbangan Duka
Jakarta Kebanjiran Lagi, 17 Ruas Jalan dan 12 RT Terendam
LP3I Depok Gelar Workshop, Bantu Guru Rakit Portofolio Digital