Ketika Otak Pemimpin Mulai Tak Bisa Menahan Ucapan

- Kamis, 22 Januari 2026 | 10:40 WIB
Ketika Otak Pemimpin Mulai Tak Bisa Menahan Ucapan

Bahayanya Memilih Presiden yang Pikun

✍🏻 dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP

Dulu, pidato seorang pemimpin dunia itu sesuatu yang serius. Dipikir matang, ditimbang dampaknya, dan dianggap sebagai dokumen penting. Sekarang? Rasanya beda. Banyak yang lebih mirip cuitan di media sosial spontan, emosional, dan bisa berubah arah dalam sekejap.

Ketika ini terjadi pada Presiden Amerika Serikat, efeknya langsung terasa global. NATO bisa berang, sekutu gelisah, pasar finansial pun ikut-ikutan tegang. Wajar saja kalau publik mulai bertanya-tanya: ini strategi politik yang cerdik, atau sekadar tanda bahwa kontrol diri sang pemimpin mulai memudar?

Nah, di sini banyak yang keliru. Banyak orang mengira "pikun" cuma soal lupa nama atau lupa janji. Padahal, dalam dunia medis, kemampuan memimpin itu jauh lebih kompleks. Ini soal menahan diri, menjaga alur logika, memahami konteks sosial, dan yang paling krusial: menyadari konsekuensi dari setiap ucapan.

Jadi, kalau seorang pemimpin tiba-tiba bicara tanpa rem terlalu cepat menyulut konflik, terlalu mudah menyalahkan orang lain itu bukan lagi sekadar gaya komunikasi. Itu bisa jadi alarm. Ada sesuatu yang berubah.

Demensia, secara sederhana, adalah gangguan fungsi otak yang bikin kemampuan berpikir dan beraktivitas sehari-hari menurun. Ini bukan soal kurang iman atau kurang pintar. Ini masalah biologis yang nyata. Risikonya meningkat seiring usia, dan dipengaruhi kondisi seperti hipertensi, diabetes, atau riwayat stroke ringan yang sering tak disadari.

Kita perlu bedakan dengan jelas: pelupa biasa karena usia sama demensia itu berbeda. Yang pertama masih bisa diingatkan. Yang kedua lebih parah: penderitanya mulai kehilangan kemampuan menilai situasi, merencanakan sesuatu, atau menjaga konsistensi keputusan.

Dan ada satu jenis demensia yang penting untuk dipahami publik, karena gejalanya sering disalahartikan: frontotemporal dementia (FTD).

FTD ini menyerang bagian depan dan samping otak area yang mengatur kontrol diri, penilaian sosial, empati, dan bahasa. Karena yang kena duluan adalah "filter" perilaku, gejalanya sering terlihat seperti perubahan kepribadian. Seseorang jadi lebih impulsif, bicara tanpa saring, agresif, atau malah dingin dan tidak peka. Mereka seperti kehilangan rem sosial yang dulu mereka punya.

Ini bedanya dengan Alzheimer yang lebih dikenal.

Alzheimer biasanya dimulai dengan masalah ingatan: lupa kejadian baru, lupa naruh kunci. Perlahan-lahan, fungsi lain ikut menurun.

FTD? Seringnya, yang muncul duluan justru perilaku dan kepribadian. Bicaranya berubah, keputusannya ceroboh, emosinya meledak-ledak. Bisa jadi terlihat "tegas" padahal sebenarnya sedang "kehilangan kendali".


Halaman:

Komentar