Sebuah rekaman kamera tersembunyi di hutan Gunung Sanggabuana, Karawang, menangkap pemandangan yang memilukan. Seekor macan tutul Jawa terlihat pincang, berjalan tertatih-tatih. Kaki depan kirinya tampak terluka parah, sementara tubuhnya yang seharusnya perkasa terlihat sangat kurus.
Kondisinya jelas tidak baik. Perutnya menyusut, pertanda ia sudah lama kesulitan berburu mangsa. Satwa yang seharusnya menjadi penjelajah puncak rantai makanan itu, kini tampak lemah dan rentan.
Penemuan ini didapatkan Bernard Triwinarta Wahyu Wiryanta, peneliti dari Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), saat melakukan patroli dan memeriksa kamera bersama prajurit TNI AD akhir Desember lalu.
“Dari hasil analisis data camera trap, terlihat ada satu ekor macan tutul yang mengalami luka di kaki depan bagian atas sehingga tidak bisa berjalan normal,” kata Bernard, Rabu (21/1).
Ia tak menampik kekhawatirannya. “Kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk berburu. Kalau tidak segera ditemukan, kemungkinan besar macan tutul itu bisa mati di dalam hutan atau justru diambil oleh pemburu,” ujarnya.
Merespon temuan itu, SCF langsung bergerak. Mereka berkoordinasi dengan BBKSDA Jawa Barat dan TNI AD untuk menyisir hutan. Sayangnya, hingga laporan ini dibuat, macan malang itu masih belum ditemukan jejaknya.
“Besok akan dilanjutkan (pencarian) lagi,” katanya.
Bernard bersikukuh, apapun hasilnya, satwa itu harus diamankan. “Minimal kalau ditemukan dalam kondisi sudah mati, bangkainya harus diamankan untuk dilakukan nekropsi dan diserahkan ke BBKSDA, supaya tidak diambil atau diperjualbelikan,” tegasnya.
Artikel Terkait
Kementan Gelar Talkshow untuk Cegah Panic Buying Jelang Ramadan
Sheila Dara Aisha Antar Vidi Aldiano ke Peristirahatan Terakhir di Tengah Hujan Deras
Analisis Telematika: Operasi Gabungan CIA-Mossad di Balik Wafatnya Pemimpin Spiritual Iran
Harga Emas Perhiasan Stabil di Pasar Domestik, Puncak Rp2,6 Juta per Gram