“Kita terlebih dahulu harus fokus pada restrukturisasi keuangan karena ini juga berkaitan dengan pihak Tiongkok dan keamanan fiskal dari perusahaan-perusahaan yang ada di proyek tersebut,” ujarnya menjelaskan.
Koordinasi pun dilakukan dengan banyak pihak. Mulai dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, Danantara, sampai PT KAI yang jadi salah satu pemegang saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Intinya, semua sedang duduk bersama.
“Nah ini sedang kita cari yang terbaik,” tegas AHY.
Sebagai langkah konkret, pemerintah akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah Komite Nasional Kereta Cepat. Tugasnya ganda: menangani proses restrukturisasi keuangan KCJB yang pelik itu, sekaligus mengkaji rencana ambisius memperpanjang jalur kereta cepat hingga ke Surabaya.
Perlu diingat, proyek Whoosh ini dibangun dengan modal tak sedikit. Biayanya mencapai 7,2 miliar Dolar AS, atau jika dirupiahkan lebih dari Rp118 triliun. Dan sebagian besar dananya, berasal dari pinjaman China Development Bank. Itulah yang kini jadi beban, dan sedang dicari formula terbaik untuk mengelolanya.
Artikel Terkait
BPOM Beri Nilai A+ untuk Dapur Gizi Polri Cipinang
Roy Suryo Soroti Bibir dan Hidung di Foto Ijazah Jokowi: Bukan Ciri Fisiknya
Eksodus Massal di Sihanoukville Usai Sang Raja Scam Dideportasi
Oranye Baru di Panggung Politik: Gerakan Rakyat Resmi Usung Anies di Pilpres 2029