“Kita terlebih dahulu harus fokus pada restrukturisasi keuangan karena ini juga berkaitan dengan pihak Tiongkok dan keamanan fiskal dari perusahaan-perusahaan yang ada di proyek tersebut,” ujarnya menjelaskan.
Koordinasi pun dilakukan dengan banyak pihak. Mulai dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, Danantara, sampai PT KAI yang jadi salah satu pemegang saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Intinya, semua sedang duduk bersama.
“Nah ini sedang kita cari yang terbaik,” tegas AHY.
Sebagai langkah konkret, pemerintah akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah Komite Nasional Kereta Cepat. Tugasnya ganda: menangani proses restrukturisasi keuangan KCJB yang pelik itu, sekaligus mengkaji rencana ambisius memperpanjang jalur kereta cepat hingga ke Surabaya.
Perlu diingat, proyek Whoosh ini dibangun dengan modal tak sedikit. Biayanya mencapai 7,2 miliar Dolar AS, atau jika dirupiahkan lebih dari Rp118 triliun. Dan sebagian besar dananya, berasal dari pinjaman China Development Bank. Itulah yang kini jadi beban, dan sedang dicari formula terbaik untuk mengelolanya.
Artikel Terkait
Tenaga Honorer Pemkab Tambrauw Tewas Ditusuk, Polisi Bantah Isu Tembakan
Final Campeonato Mineiro Berakhir Kacau, 23 Kartu Merah Warnai Kemenangan Cruzeiro
Ini Dia Pengacara yang Kerap Mencuri Sorotan dalam Kasus-Kasus Besar di Indonesia
Mantan Pj Gubernur Sulsel Ditahan dalam Kasus Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar