Cuaca di Gunung Bulusaraung masih tak bersahabat, hujan dan kabut tebal menyelimuti. Tapi di tengah kondisi ekstrem itu, Tim SAR berhasil mengevakuasi korban kedua dari reruntuhan pesawat ATR 42-500, Selasa (20/1) lalu. Prosesnya berlangsung alot, penuh ketegangan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, yang memimpin operasi, mengonfirmasi kabar tersebut.
“Korban kedua berjenis kelamin perempuan juga telah berhasil dievakuasi,” ujarnya.
Korban, yang diduga kuat adalah seorang pramugari, sebenarnya sudah ditemukan sehari sebelumnya, Senin sore. Lokasinya cukup mengerikan: tersangkut di pepohonan, di dalam jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak. Medannya benar-benar ganas.
Arif menceritakan, upaya evakuasi langsung dijalankan sejak penemuan. Sayangnya, alam tidak memihak. Cuaca buruk dan medan yang ekstrem memaksa tim untuk menunda.
“Sejak kemarin sudah diupayakan evakuasi, tetapi karena medan ekstrem mengalami kesulitan,” jelas Arif. “Baru tadi dilanjutkan dan berhasil.”
Bayangkan saja, mereka harus bekerja di lembah curam dengan tebing-tebing terjal. Jarak pandang pun sangat terbatas, dipenuhi kabut dan hujan yang tak kunjung reda. Evakuasi dilakukan selangkah demi selangkah, dengan kehati-hatian penuh.
“Evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat,” sambung Arif, menggambarkan kompleksitasnya. “Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus.”
Hujan deras pun tidak menghentikan langkah mereka. Akhirnya, setelah perjuangan berat, jenazah korban berhasil dibawa turun dan tiba di Posko AJU di Kantor Desa Tompo Bulu pada malam hari.
“Jenazah kami serahkan ke tim DVI dan kemungkinan dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk dilakukan autopsi,” katanya.
Operasi besar-besaran ini melibatkan tidak main-main: 1.075 personel dari berbagai lini. Basarnas, TNI, Polri, relawan, komunitas pecinta alam, sampai tenaga medis, semua bahu-membahu. Mereka juga didukung penuh dengan helikopter, pesawat intai, dan drone thermal untuk memetakan medan pencarian.
Di akhir penjelasannya, Arif menyampaikan apresiasi. “Kami mengapresiasi dedikasi seluruh unsur yang terlibat. Operasi ini adalah wujud nyata sinergi dan kemanusiaan,” tandasnya. “Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan.”
Artikel Terkait
PSM Makassar Kalahkan Persik Kediri 3-1, Jauh dari Zona Degradasi
Mahfud MD: Generasi Muda Harus Berani Bela Kebenaran demi Masa Depan Bangsa
Kebakaran di Samarinda Hanguskan Enam Bangunan, Diduga akibat Korsleting Listrik
Permandian Lambiria di Gowa: Destinasi Wisata Alam dengan Kolam Bertingkat, Air Terjun, dan Tangga Seribu