Sidang gugatan warga negara soal ijazah Jokowi di PN Surakarta kembali menghadirkan kesaksian yang menarik. Kali ini, pada Selasa (20 Januari 2026), yang hadir adalah Bagas Pujilaksono Widyakanigara, seorang dosen Fakultas Teknik UGM yang lulus pada 1988.
Kehadiran Bagas ini menarik perhatian. Sebab, pekan lalu, sidang sempat menampilkan ijazah Bambang Budy Harto, alumni Fakultas Kehutanan UGM 1985. Kini giliran saksi dari angkatan yang hampir bersamaan.
Bagas mengaku dirinya lulus terbaik di angkatannya. Ia menyelesaikan studi tepat dalam lima tahun sebuah pencapaian yang menurutnya luar biasa di masa itu. Karena prestasi itulah, ia kemudian diangkat menjadi dosen di almamaternya.
“Kalau Jokowi juga tamat selama 5 tahun, berarti ia juga harusnya lulus terbaik, IPK tinggi,” ujarnya di persidangan, seperti dikutip dari keterangan. Logikanya sederhana: lulus cepat waktu itu adalah pengecualian, bukan hal biasa. Kebanyakan mahasiswa butuh lebih dari lima tahun.
Namun begitu, ada poin lain yang disinggung Bagas. Ia mengaku pernah melihat Jokowi secara langsung. Dan menurut pengamatannya, wajah Jokowi yang ia lihat dulu tidak sama dengan foto yang terpampang pada ijazah yang kini beredar. Pernyataan ini senada dengan kesaksian mantan Wakapolri Oegroseno di sidang sebelumnya.
Yang lebih penting, Bagas memberikan kesaksian kunci tentang prosedur akademik UGM era 80-an. Ia menegaskan dengan sangat jelas: TIDAK ADA SKRIPSI YANG TIDAK DITANDATANGANI. Semua skripsi, menurut pengetahuannya, wajib memuat tanda tangan dosen pembimbing dan dekan.
Selain itu, ia juga menyatakan bahwa semua transkrip nilai pada masa itu sudah diketik dengan mesin, bukan ditulis tangan.
Artikel Terkait
Bupati Pati Tersangka KPK: Saya Dikorbankan, Katanya
KPK Jerat Bupati Pati dalam Kasus Proyek Kereta Rp143 Miliar
Gaji Sopir MBG Lebih Tinggi, Guru Honorer: Miris Hati Saya
Bupati Pati Dijerat Dua Kasus Korupsi, Nilainya Capai Miliaran Rupiah