Korupsi dan Korupsi: Tanpa Jera Masuk Bui
– Imam Wahyudi (iW)
NDABLEG tenan. Dua kata itu rasanya pas disematkan untuk Sudewo. Sang Bupati Pati ini seperti tak punya rasa malu. Daripada fokus pada prestasi, malah terinspirasi untuk korupsi. Dia mencari jalan pintas menumpuk pundi-pundi, mungkin berharap hatinya tenang. Nyatanya, ujung-ujungnya justru penjara.
Bagi yang belum paham, ndableg dalam bahasa Jawa artinya bandel atau keras kepala. Sifat orang yang nggak mau dengar nasihat, perintah, atau membaca situasi. Bahkan peringatan keras pun dianggap angin lalu. Sudewo sebenarnya sempat “diselamatkan” dalam proses pemakzulan sebagai Bupati Pati. Tapi, alih-alih berubah, dia malah makin teguh pada jalur yang salah.
Semua ini berawal dari protes warganya sendiri lewat Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Mereka gerah dengan kebijakan Sudewo yang mendongkrak pungutan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan Perkotaan (PBB P2). Kenaikannya fantastis, sampai 250 persen! Sungguh tak masuk akal dan seperti menantang warganya untuk demo. Nah, ketika massa marah berunjuk rasa, Sudewo malah bersembunyi di balik aparat kepolisian.
Tak tinggal diam, AMPB lalu berbondong-bondong ke Jakarta. Mereka mendesak KPK untuk menetapkan status hukum Sudewo. Pasalnya, sebelum jadi bupati, dia sudah diduga terlibat kasus korupsi pembangunan jalur kereta api di lingkungan Kemenhub.
Proses pemakzulannya sempat bergulir lewat pansus DPRD setempat. Tapi, dugaan kuat karena dia bagian dari partai penguasa (baca: Gerindra), Sudewo akhirnya selamat. Hasilnya mencengangkan: dari 49 anggota dewan, cuma 13 yang setuju dia dicopot. Sebaliknya, 36 anggota mayoritas menolak. Jadilah Sudewo tetap bisa melenggang dengan jubah kehormatannya.
Banyak orang yang masih waras berpikir, lolos dari pemakzulan itu mestinya jadi titik balik. Momen untuk berbenah dan serius membangun daerah. Saatnya dia berubah. Tapi kenyataannya?
Jauh panggang dari api. Daripada berjalan lurus, Sudewo malah makin dalam terperosok. Tabiat buruknya yang sudah berkarat ternyata sulit dihilangkan. Martabatnya jatuh. Dia bukan cuma korup sendiri, tapi juga diduga mengajari bawahannya. Dua camat, tiga kepala desa, plus dua perangkat desa akhirnya ikut terciduk dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK.
Modusnya jual-beli jabatan di tingkat desa dengan tarif tertentu. Praktik yang sayangnya sudah jadi hal lumrah di banyak daerah. Tak jauh dari Pati, di Pemkot Bandung, Wakil Wali Kota Erwin juga tersandung kasus serupa.
“Kowe iki ra iso dikandani, dableg tenan!”
Artikel Terkait
Lima Pelaku Pengeroyokan Saat Sidak KLH Divonis 7 Bulan Penjara
Imigrasi Bagi-Bagi Bibit Kelapa dan Sembako di Hari Bakti ke-76
Jenazah Korban ATR 42-500 Ditemukan Tersangkut di Dahan, Evakuasi Dihadang Tebing dan Hujan Deras
Cuaca Bandara Normal, Tapi Awan Tebal di Jalur Pendekatan Jadi Sorotan Usai Kecelakaan Pangkep