Kira-kira begitulah suara sumbang yang berkeliaran di sekitar kekuasaan Pemkab Pati. Kekuasaan yang ternyata tak mampu menyelamatkannya untuk kedua kalinya. Ini bukan lagi soal “nasi sudah menjadi bubur”.
SUDEWO, yang namanya bermakna pesona dan karisma, kini tersungkur. Mungkin di balik terali besi dia masih bisa tersenyum kecut. Tapi, dia ternyata tak sendirian.
Seolah ada janji tak terucap, Bupati Pati ini nyaris berbarengan ditangkap dengan Wali Kota Madiun, Maidi. Maidi diduga korupsi lewat success fee proyek dan menyalahgunakan dana CSR.
Sebelum mereka, ada juga Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang. Dia kepala daerah muda dan kaya raya, tapi malah berduet dengan ayahnya sendiri, HM Kunang seorang kepala desa. Mereka diduga main proyek ‘ijon’ dengan tarikan dana di muka mencapai Rp 6,7 miliar.
Itu tiga kasus kepala daerah yang jadi prestasi kerja KPK. Sementara kasus Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, ditangani Kejari setempat. Dia dan Rendiana Awangga dari DPRD sudah ditetapkan sebagai tersangka. Upaya praperadilannya pun ditolak mentah-mentah.
Lalu, apa gunanya agenda retret di kampus Akmil Magelang itu? Acara yang mestinya jadi ‘kawah candradimuka’ bagi calon kepala daerah, rupanya cuma jadi ritual formalitas belaka. Tak membekas. Malah cenderung kebas.
Seolah kata ‘jera’ sudah hilang dari kamus mereka. Skandal korupsi jadi hal biasa. Kasus yang terus berulang ini tak lepas dari model pilkada langsung yang biayanya selangit. Akibatnya, yang terjadi adalah reproduksi korupsi dengan modus yang itu-itu juga. Miris.
"
– jurnalis senior, anggota PWI
Artikel Terkait
Wamen Agus Jabo Beri Tenggat: Lahan Sekolah Rakyat di Padang Lawas Utara Harus Segera Siap
Inggris Pelajari Larangan Media Sosial untuk Anak, Terinspirasi dari Australia
Menteri Prasetyo Prihatin, Lagi-lagi Kepala Daerah Terjaring OTT KPK
Bupati Pati dan Tim Suksesnya Diringkus KPK, Tarif Jabatan Desa Tembus Rp 225 Juta