Omzetnya pun tak lagi seperti dulu. Dedy bercerita, penurunan drastis mulai terasa sejak harga tabung gas 12 kilogram melambung tinggi. Itulah sebabnya ia kini juga menyediakan tabung ukuran 3 kilogram.
"Semenjak gas 12 kilo mahal, omzet ya turun," keluhnya.
Dulu, dalam sehari ia bisa mengisi sampai 80 kaleng. Sekarang? Paling banter cuma 20 kaleng. Tarifnya Rp 9.000 per isi. Ia menjelaskan, satu tabung gas melon penuh biasanya cukup untuk sembilan kaleng. Tapi kalau ada kebocoran, ya cuma bisa untuk tiga atau empat kaleng saja.
Soal teknik, menurut Dedy sebenarnya tidak ada yang istimewa. Proses mengisi kaleng gas itu bisa dilakukan sendiri di rumah. Tapi ya itu, risikonya ada.
"Pertama, baunya menyengat. Kedua, kalau kelewat penuh, kalengnya bisa rusak atau malah bocor," jelasnya.
Meski begitu, Dedy tetap berikhtiar. Setiap hari, dari pukul 10 pagi sampai 7 malam, ia setia membuka lapak. "Buka sampai jam 7 malam," pungkasnya, menatap jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan.
Artikel Terkait
Valverde Cetak Hattrick, Real Madrid Hancurkan Manchester City 3-0 di Liga Champions
12 Maret dalam Catatan Sejarah: Dari Awal Orde Baru Hingga Pawai Garam Gandhi
Panglima TNI Lakukan Rotasi Besar-besaran, Pangdam Jaya Naik Pangkat
Umat Islam Surabaya Masuki 10 Hari Terakhir Ramadhan, Ini Jadwal Imsak Hari Ini