“Kita melihat kondisi masyarakat yang harus menyeberang menggunakan sampan, bahkan ada yang membentangkan tali dan menggunakan keranjang. Melihat kondisi seperti itu hati kami terketuk,” katanya.
Momen itu, ditambah cerita warga yang berjalan kaki jauh menembus lumpur, semakin mengeraskan tekad mereka. Kerja pun dilaksanakan dengan sistem shift 24 jam.
“Itu juga mengetuk hati kami dan prajurit-prajurit untuk dapat membangkitkan semangat untuk bisa segera membangun jembatan,” terang Rudy.
Begitu fokusnya, kebutuhan dasar pun kerap terabaikan. "Itu aparat-aparat di lapangan itu sampai tidur saja juga tidak, makan juga sudah tidak dipikirkan," bebernya. Ia hanya berharap doa dan dukungan masyarakat agar proses pemulihan ini bisa berjalan lancar.
Jembatan Teupin Reudeup: Tantangan Terberat
Dari semua titik yang dikerjakan, Rudy menyebut Jembatan Teupin Reudeup di kawasan Awe Geutah sebagai yang paling menantang. Jembatan ini vital, menjadi penghubung jalur alternatif antara Kabupaten Bireuen dan Kota Lhokseumawe, sekaligus jalur logistik.
“Paling sulit adalah di jembatan Teupin Reudeup, daerah Awe Geutah. Itu jembatan yang menghubungkan jalan alternatif antara Bireuen dengan Lhokseumawe,” ucapnya.
Tingkat kesulitannya tinggi karena ruang pemasangan yang terbatas, memaksa pembangunan dilakukan dari atas struktur lama. Material yang digunakan juga gabungan, butuh modifikasi dan improvisasi agar kuat dan aman.
“Jadi, perlu ada beberapa modifikasi dan perlu improvisasi, sehingga jembatan itu tetap kuat dan aman dilewati oleh masyarakat,” jelas Rudy.
Dengan tanah yang masih labil dan akses yang sulit, kerja shift 24 jam terus dilakukan. Perbaikan juga berjalan berkelanjutan, karena satu jembatan harus selesai dulu untuk membuka akses ke titik berikutnya.
Bagaimana Prosesnya?
Setelah banjir bandang melanda pada 26 November, personel TNI segera turun memantau. Begitu air surut, pembersihan bersama masyarakat dan pemda dimulai. Batalyon Zipur 16 mulai masuk ke lokasi pada awal Desember untuk mempersiapkan pemasangan.
Dengan alat berat yang terbatas, tenaga manusia menjadi andalan. Dukungan alat dari pemda dan Kementerian PUPR sangat membantu membersihkan material yang menyangkut.
“Perintahnya adalah segera untuk membangun jembatan," kata Rudy. Keberhasilan ini, tutupnya, tak lepas dari kerja sama lintas instansi dan dukungan logistik yang memadai. "Alhamdulillah kita tercukupi juga, sehingga anggota tetap bisa melaksanakan pemasangan jembatan."
Artikel Terkait
Pendidikan Tanpa Arah: Ketika Kecerdasan Tanpa Akhlak Menjadi Bencana
Buaya Muara Nongkrong di Depok, Warga Sekolah Cemas
SBY Peringatkan Dunia: Geopolitik Memanas Bak Jelang Perang Besar
Mantan Wamenaker Noel Gerungan Diadili, Terima Gratifikasi Rp3,3 Miliar dan Motor Ducati