Di Tarakan, Kalimantan Utara, suasana Markas Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XIII tampak berbeda pada Rabu (4/3) lalu. Latihan tempur khusus digelar di sana, sebuah upaya konkret TNI AL untuk terus mengasah kemampuan pertahanan udara Indonesia.
Rangkaian kegiatan diawali dengan apel kesiapan pasukan. Panglima Komando Armada RI, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, memantau langsung persiapan itu.
Setelah apel, latihan pun bergulir. Fokusnya adalah simulasi menangkal serangan udara yang datang dari arah laut. Mereka tak cuma berlatih di darat. Persenjataan yang ada di KRI juga dikerahkan, menunjukkan skenario latihan yang cukup komprehensif.
Menurut Denih, latihan semacam ini punya tujuan yang jelas. Selain untuk mempertajam kemampuan prajurit dalam mengoperasikan alutsista penangkal serangan udara, yang tak kalah penting adalah melatih insting.
"Setiap prajurit harus memiliki naluri tempur, respons cepat, dan profesionalisme tinggi dalam setiap pelaksanaan tugas," tegas Denih.
Harapannya, dengan latihan yang rutin dan realistis, para prajurit bisa bertindak lebih cepat dan tepat jika suatu saat menghadapi situasi sesungguhnya. Di sisi lain, ini juga menjadi bentuk kesiapsiagaan TNI AL di wilayah perbatasan utara Indonesia.
Artikel Terkait
BGN Hapus Skema Insentif Seragam Rp6 Juta per Hari untuk Satuan Gizi
Ribuan Mahasiswa Bubarkan Diri dari Depan DPR, Long March Menuju Semanggi
Polri Gagalkan Pengiriman 5,3 Kg Ganja dalam Paket Mi Instan ke Malang, Satu Kurir Ditangkap
Ribuan Mahasiswa Bubarkan Diri dari Dukuh Atas, Sampaikan 11 Tuntutan Khusus