Hasilnya? Cukup untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lain. “Ya bisa bawa ke rumah buat kebutuhan dasar, beras buat makan. Ngebantu cucu sama cicit alhamdulilah walaupun sedikit,” katanya. Bagi Nenek Emi, ini lebih baik daripada diam di rumah. “Daripada diem di rumah nggak berjalan. Jadi keluar biar gerak juga,” ujarnya. Bergerak itu justru membuatnya merasa lebih sehat.
Hidupnya ia jalani dengan prinsip sederhana. Tidak mau berutang, tidak boros. Cukup saja. Yang penting sehat dan bisa terus beraktivitas. Di sela-sela menjajakan dagangannya, ia juga tak lupa berdoa dan berdzikir.
Perjuangannya nggak cuma di Braga. Untuk beli stok, ia rela jalan jauh ke Pasar Caringin. Naik bus jurusan Cicaheum–Cibeureum, turun di Jamika, lalu ganti kendaraan lagi. Ongkos pulang pergi habis sekitar Rp 8.000. Di pasar itu, ia beli tisu ukuran besar. Kadang, kalau ada uang lebih, sekalian beli bumbu dapur. Bahkan, tak jarang pedagang lain kasihan dan memberinya sedikit bahan makanan.
Jadi, ia bukan cuma penjual tisu biasa. Nenek Emi itu gambaran keteguhan. Di usianya yang senja, ia menolak untuk berhenti. Justru semakin tegar. Di tengah hiruk-pikuk kota Bandung, kehadirannya seperti pengingat yang lembut tentang arti kesabaran, hidup sederhana, dan bersyukur atas hal-hal kecil yang kita punya.
Artikel Terkait
Makam Tujuh Tahun Dibongkar, Tulang Belulang Almarhum Raib di TPU Serang
Bhutan: Ketika Sebuah Negara Memilih Jalan Kebahagiaan, Bukan Kecepatan
Di Balik Pangsit dan Ikan Utuh: Makna Tersembunyi Makanan Imlek yang Sarat Doa
Status Tersangka Eggi dan Damai Dicabut Usai Restorative Justice