Jalan Braga di Bandung selalu ramai. Turis berfoto, anak muda nongkrong, suara riuh khas tempat wisata. Tapi di tengah keramaian itu, ada sosok yang bergerak pelan. Seorang nenek dengan tas plastik berisi tisu, langkahnya tertatih tapi pasti. Itulah Nenek Emi Suhaemi.
Usianya sudah 74 tahun. Tubuhnya mungkin renta, tapi jangan tanya soal semangat. Rasanya, semangatnya lebih besar dari kebanyakan orang yang ia temui di sepanjang trotoar Braga itu.
Menurut ceritanya, usaha jualan tisu ini dimulai setelah pandemi COVID-19 mulai mereda. Modal awalnya cuma Rp 200.000. Uang seadanya itu ia putar.
Dari Ujungberung, ia berangkat setiap hari. Nggak sendirian. Biasanya diantar cucunya yang sekalian narik ojol. “Cucu Nenek nyari rezeki juga, sama kayak Nenek,” tuturnya. Sampai di Braga, perjalanan barunya dimulai. Ia menyusuri jalan dari ujung ke ujung, menawarkan tisunya. Kalau capek, ya istirahat dulu. “Kalau capek mah istirahat dulu,” ucapnya ringan. Sederhana saja.
Artikel Terkait
Makam Tujuh Tahun Dibongkar, Tulang Belulang Almarhum Raib di TPU Serang
Bhutan: Ketika Sebuah Negara Memilih Jalan Kebahagiaan, Bukan Kecepatan
Di Balik Pangsit dan Ikan Utuh: Makna Tersembunyi Makanan Imlek yang Sarat Doa
Status Tersangka Eggi dan Damai Dicabut Usai Restorative Justice