Yang memilukan, sejarah sering berulang. Tanda-tanda perang besar kerap diabaikan. Kesadaran untuk mencegahnya justru tidak muncul, entah karena ketidakpedulian atau rasa tak berdaya.
SBY mengaku terus berdoa agar mimpi buruk perang nuklir itu tak pernah terwujud. Tapi ia sadar, doa saja tidak cukup. Butuh aksi nyata dari seluruh penghuni bumi. Ia mengutip Edmund Burke dan Albert Einstein, bahwa kehancuran dunia sering terjadi bukan karena ulah orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik.
Lalu, apa jalan keluarnya?
SBY punya usulan konkret. Ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil inisiatif. Organisasi dunia itu harus segera menggelar Sidang Umum Darurat, mengumpulkan para pemimpin global untuk membahas langkah nyata mencegah krisis besar.
Ia tahu, wibawa PBB saat ini boleh dibilang sedang di ujung tanduk. Tapi justru karena itulah, tindakan simbolis sekalipun punya makna. "Janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran," tegasnya.
Seruan ini mungkin akan tenggelam, bagai suara di padang gurun. Tapi bisa juga ini jadi awal dari sebuah kesadaran kolektif baru. Semuanya tergantung pada kemauan. Seperti kata pepatah yang ia akhiri tulisannya: if there is a will, there is a way.
Artikel Terkait
DPR Buka Suara Publik untuk Revisi UU Pemilu, Pilpres Tetap Langsung
Menhub Tinjau Langsung Pencarian di Lereng Bulusaraung, Harap Ada Keajaiban
Eggi Sujana dan Rudi Kamri: Dua Wajah Perburuan Keadilan yang Berbeda
Kilang Balikpapan dan Klaim Penghematan Rp 60 Triliun: Antara Optimisme dan Keraguan