✍🏻 Rudy Razi
Saya sudah kenal Bang Eggy sejak lama, waktu masih SMA dan aktif di Pelajar Islam Indonesia. Dulu, di beberapa training dan acara PII, beliau yang sering ngisi materi. Kala itu, Bang Eggy masih mahasiswa dan getol di GPII.
Kemudian kami bertemu lagi di berbagai momen besar. Mulai dari Pilpres 2014, aksi 212, sampai Pilkada Jakarta. Jadi, ya, sejarah pertemanan kami cukup panjang.
Nah, soal kunjungannya baru-baru ini menemui JKW, bagi saya itu sudah jelas banget. Ia seperti bertekuk lutut di bawah ruas kelingking JKW. Tak perlu berbelit-belit dengan teori atau argumen yang njlimet.
Ada yang coba menyamakan dengan kunjungan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir? Menurut saya, konteksnya jauh berbeda.
Sehari setelah Ustaz ABB bertemu JKW, saya dapat info valid langsung dari kerabat dekat beliau. Beliau datang atas inisiatif sendiri, murni untuk menasihati Jikiwir. Lagi pula, beliau tak sedang ada kasus dengan orang itu. Info ini saya dapat langsung dari Ngruki, bukan sekadar katanya-katanya, tapi dari sumber A1 beliau.
Jadi, tak usah banyak dalih! Apalagi alasan "strategi". Aaagrhgrh… strategi… strategi!!! Dulu kan sudah ada contoh orang gemoy yang beralasan serupa, dan lihatlah faktanya sekarang?!
Kalaupun itu strategi, modelnya bukan begitu caranya! Bukan namanya strategi kalau kita berenang di kolam yang sama dengan penjahat.
Soalnya, antara haq dan bathil takkan pernah bisa nyatu. Sibghatullah tidak akan berbaur dengan Sibghath-thaghut. Ada konsep wala' wal bara', ada furqan yang memisahkan.
Artikel Terkait
Warga Lokal Jadi Penunjuk Jalan Krusial dalam Evakuasi Korban Jatuhnya ATR 42-500
Raffi Ahmad dan Bisnis Hiburan: Wajah Bersih untuk Uang Bermasalah?
Kamera Tersembunyi Rekam Dua Macan Tutul Jawa, Satu di Antaranya Berwarna Hitam Pekat
Bocah 5 Tahun Tewas Terhanyut di Selokan Sleman