Nah, di sinilah peran DPN dinilai krusial. Lembaga ini diharapkan bisa menyusun blueprint besar pertahanan nasional. Sebuah cetak biru yang bersifat antisipatif, bukan cuma reaktif, terhadap segala perubahan yang terjadi di dunia.
Memang, situasi global saat ini cukup kompleks. Ekspansi pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik, konflik kepentingan antar negara adidaya, hingga tekanan politik dan ekonomi yang kerap digunakan Amerika Serikat semua ini akan menjadi bahan kajian utama DPN.
Kembali soal Sjafrie, penunjukannya dinilai mencerminkan konsistensi Prabowo. Sang presiden rupanya ingin membangun sistem pertahanan yang berbasis pada pengalaman lapangan dan pemahaman geopolitik yang matang.
Lantas, apa harapan ke depannya? DPN diidealkan menjadi pusat perumusan kebijakan strategis jangka panjang. Cakupannya luas: pemetaan ancaman multidimensi, sinkronisasi kebijakan lintas kementerian, arah modernisasi alat pertahanan, hingga membangun ketahanan nasional di tengah tekanan global yang makin keras.
Singkatnya, seperti disimpulkan Amir, ini adalah cara Prabowo mempersiapkan Indonesia menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
Pengacara Desak Ayah Korban Kekerasan di Sukabumi Diperiksa, Diduga Biarkan Anak dalam Bahaya
Polisi Siapkan 10 Ruas Tol Fungsional untuk Antisipasi Macet Mudik Lebaran 2026
DPRD Sulsel dan Tim Teknis Temukan Ketebalan Aspal Jalan Hertasning Sesuai Standar
Dua Aktivis Pati Bebas Bersyarat Usai Divonis 6 Bulan Penjara